Mandikan Jenazah Bukan Muhrim, Empat Petugas Forensik Jadi Tersangka

  • Whatsapp

HALUANRIAU.CO, MEDAN-Sempat orang petugas firensik pada Rumah Sakit Umu. Djasemen Saragih Kota Padang Siantar, Sumatera Utara Ditetapkan sebagai tersangka.

Dua dari empat petugas tersebut adalah perawat. Mereka diketahui berinisial DAAY, ESPS, RS, dan REP.

Keempatnya ditetapkan tersangka karena diduga melanggar Pasal 156 huruf a juncto Pasal 55 ayat 1 tentang Penistaan Agama dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Pasalnya mereka telah memandikan jenazah seorang perempuan bukan muhrim bernama Zakiah (50).

Suami korban, Fauzi Dalimunte melaporkan keempatnya ke Polisi atas apa yang dilakukan terhadap istrinya.

Pasalnya empat petugas forensik tersebut sudah melakukan fardu kifayah dengan memandikan istrinya, adahal mereka bukan muhrim sesuai dengan syariat Islam.

Terlebih lagi, sudah ada kesepakatan antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematangsiantar dengan pihak RSUD Djasemwn Saragih terkait penanganan jenazah Covid-19 pada 24 Juni 2020 lalu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, bukti dan keterangan saksi ahli yang diperoleh, polisi akhirnya menetapkan para petugas forensik itu sebagai tersangka.

“Itu keterangan saksi ahli dan keterangan MUI yang kita pegang. Sudah kita panggil MUI, bahwasanya MUI menerangkan perbuatan mengenai penistaan agama,” kata Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar, AKP Edi Sukamto, saat dihubungi lewat sambungan telepon, Jumat (19/2/2021).

Menurut Edi, berkas kasus tersebut saat ini telah dinyatakan lengkap dan sudah diserahkan kepada Kejaksaan Negeri Siantar.

“Kita hanya mengajukan, jadi itu semua petunjuk jaksa. Ya sudah kita sampaikan,” ucapnya.

Meski status keempat petugas forensik tersebut telah dinaikan sebagai tersangka, namun, polisi tidak melakukan penahanan kepada yang bersangkutan.

Hal sama juga disampaikan Kasi Pidum Kejari Siantar, M Chadafi.

Menurutnya, meski kasus tersebut sudah dilimpahkan kepada kejaksaan, namun, pihaknya tidak melakukan penahanan.

Adapun salah satu pertimbangannya, karena keempat petugas forensik itu masih dibutuhkan untuk menangani jenazah di RSUD Djasamen Saragih.

“Kita khawatir kalau dilakukan penahanan di rumah tahanan akan mengganggu proses berjalannya kegiatan forensik. Di antara memandikan jenazah dan sebagainya. Kita enggak mau gara-gara ini kegiatan itu terhenti apalagi sekarang kondisi pandemi,” kata Chadafi di kantor Kejari Pematangsiantar.

Menyikapi kasus tersebut, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) turun tangan untuk memberikan pendampingan hukum kepada petugas tersebut.

“Kami sebagai kuasa hukum PPNI siap memberikan bantuan hukum hingga proses persidangan,” kata Pengacara dari Badan Bantuan Hukum PPNI, Muhammad Siban.

Ketua DPW PPNI Sumut, Mahsur Al Hazkiyani, mengimbau para perawat untuk bekerja profesional dan tidak terpancing dengan upaya provokasi.

“Kami minta perawatan untuk tetap tenang jangan terprovokasi, tetap bekerja profesional dan tetap menjaga kerukunan umat beragama,” ucapnya.

 

Sumber: tribunjabar

 

Comments

Pos terkait