TANTANGAN WANITA USIA PRODUKTIF DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

  • Whatsapp
Nita Rimayanti, M.Comm (jilbab hitam) selaku Founder LPK Pabrik Cerdas Commit.(Istimewa)

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU-Wanita di era modern saat ini tentu saja berbeda dengan peran wanita di masa lalu. Wanita saat ini lebih mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, mencari pekerjaan, dan mengikuti berbagai aktifitas yang diinginkannya di luar rumah. Tetapi semua ini tergantung dari keinginan dan usaha dari wanita untuk mencapai apa yang diinginkannya.

Saat ini kita juga mengenal banyak wanita yang telah menjadi pemimpin dan berhasil dalam dunia kerjanya. Kita sebut saja pekerjaan sebagai menteri, pakar politik di berbagai partai, profesor di universitas, ataupun sebagai pengusaha.

Dapat kita lihat bahwa wanita di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Hanya saja jumlah wanita yang aktif bekerja di luar rumah tetap saja lebih sedikit dari pada jumlah laki-laki.

Pada era revolusi industri industry 4.0 digambarkan bahwa akan banyak pekerjaan yang berubah hal ini karena teknologi yang terus berkembang dan mempermudah aktifitas manusia.

Kita dapat lihat bagaimana pekerjaan customer service yang selama ini banyak memperkerjakan wanita. Dengan munculnya internet of things semakin berkurang kebutuhan tenaga manusia. Melalui sebuah mesin dapat menjalankan berbagai pekerjaan melalui jaringan internet dan saling terkoneksi satu sama lainnya tanpa memerlukan tenaga manusia.

Era digital merupakan automatisasi yang dapat dilakukan oleh teknologi akhirnya mengurangi tenaga manusia di berbagai bidang. Kita sudah lihat teller di berbagai bank saat ini tidak banyak menggunakan tenaga manusia. Tenaga administrasi semakin sedikit karena berbagai software dapat mendata, penyimpanan data dengan sendirinya. Di sisi lain, pekerjaan baru yang banyak diperlukan mengarah pada digital, memerlukan sumber tenaga manusia yang memliki keahlian di bidang teknologi Informasi.

Sayangnya selama beberapa tahun peminatan untuk mengikuti pendidikan pada bidang teknologi informasi lebih banyak peminatnya oleh laki-laki.

Pengalaman mengajar beberapa tahun di salah satu jurusan IT di sebuah universitas di Riau selama beberapa tahun, terlihat jumlah wanita yang masuk jurusan TI tidak sebanyak jumlah laki-laki. Padahal pekerjaan yang dilakukan tidak banyak menggunakan tenaga manusia. Mereka bisa menjadi ahli membuat website, aplikasi, atau bahkan menjadi pakar di bidang kecerdasan buatan.

Banyak sekali keahlian yang bisa dikuasai oleh wanita yang tertarik di bidang ini, apalagi jika bersinergi dengan dunia komunikasi. Bagaimanapun media-media yang dibuat oleh ahli IT dapat bersinergi dengan ahli di bidang komunikasi.

Pada dunia komunikasi juga bisa dilihat minat akan bidang jurnalistik maupun broadcasting lebih banyak dimasuki laki-laki dari pada wanita.

Berdasarkan hasil laporan tahunan Kementerian Ketenagakerjaan tahun 2020, Tingkat Partisipasi Angakatan Kerja (TPAK) untuk laki-laki mencapai 82,41%, sementara wanita TPAK sebanyak 53,15%.

Sementara berdasarkan Hasil Sensus Penduduk 2020 dari Badan Pusat Statistik Januari 2021, saat ini Indonesia memasuki bonus demografi dimana penduduk usia produktif dari umur 15 sampai dengan 64 tahun sebanyak 70,72%.

Banyak faktor yang menyebabkan wanita tidak bekerja, salah satunya adalah ranah domestik. Dimana wanita harus mengurus berbagai keperluan suami dan anak-anak, mengatur manajemen berbagai keperluan keluarga. Sering kita mendengar orang-orang berkata, wanita urusannya adalah dapur dan kasur.

Sudah menjadi tradisi bahwa pencari nafkah keluarga dan yang berada diluar rumah adalah laki-laki, sementara wanita membantu suami dan berada di rumah.

Selain itu di beberapa kasus terdapat wanita yang keluar dari perusahaan karena hamil. Kebijakan pemerintah juga mempengaruhi dalam keputusan untuk bekerja bagi kaum wanita, padahal di saat yang sama sosialisasi pemerintah menganjurkan seorang ibu dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayinya minimal selama 6 bulan dan lebih baik lagi hingga 2 tahun. Tujuannya memang baik untuk bayi dan ibu tetapi juga menjadi kendala besar bagi pekerja wanita karena fasilitas untuk ibu menyusui kurang diperhatikan oleh pimpinan di tempat kerja.

Akhirnya, keputusan berada pada wanita apakah harus berhenti bekerja untuk mengurus anak-anak dengan baik, atau tetap bekerja tetapi dengan dampak anak mendapatkan susu pengganti bukan ASI, meskipun di beberapa kasus ada juga wanita yang berhasil bekerja sambil memberi ASI selama dua tahun penuh.

Wanita yang bekerja juga mendapatkan waktu yang sedikit untuk masa cuti hamil, sulitnya mendapatkan sarana penyimpanan ASI di tempat kerja dan fasilitas ibu menyusui termasuk fasilitas penitipan anak.

Jika seperti begini, maka beberapa orang akan berpendapat untuk meninggalkan masa depannya demi keluarga. Tidak heran jika keputusan terakhir adalah berhenti bekerja.

Oleh karena itu wanita sebagai salah satu pekerja produktif, perlu sekali mendapatkan perhatian pemerintah dan berbagai pihak akan kesejahteraan wanita dalam bekerja.

Salah satu artikel dari Ruth M Alexander yang berjudul In Defense of Nature: Jane Jacobs, Rachel Carson, and Betty Friedan pada Journal of Women’s History 2019 menyampaikan pendapat Betty Friedan seorang pelopor feminisme yang memiliki buku berjudul ‘The Feminine Mystique’, menyampaikan pemikirannya mengenai wanita.

Friedan menyakini bahwa setiap individu dapat membuat pilihan yang bebas mengenai kehidupan maupun karirnya sendiri. Friedan sendiri keluar dari pekerjaan karena kehamilan keduanya.

Dia melihat bahwa wanita pada era 1960-an dari hasil penelitiannya banyak wanita yang berkeluarga memiliki kehidupan berkecukupan, suami yang memiliki pekerjaan yang layak dan anak yang hidupnya berhasil ternyata tetap tidak memiliki kebahagiaan.

Friedan menyebutkan bahwa mereka mengalami nemelles desperation, namun wanita itu sendiri tidak dapat menegaskan pada diri mereka sendiri akan absolete image of feminity.

Wanita menurutnya terjebak dalam sebuah rumah yang nyaman, dimana seorang wanita jika dilihat masyarakat seperti sosok yang bahagia, memiliki kehidupan yang layak, bahagia bersama suami dan anak akan tetapi sejatinya adalah mengorbankan dirinya sendiri dari kebebasan. Mereka tidak memahami apa yang mereka inginkan, seperti apa seharusnya seorang wanita digambarkan?.

Oleh karena itu Friedan beranggapan bahwa wanita perlu melepaskan dirinya dari pemikiran orang-orang tentang seperti apa seharusnya wanita bersikap.

Kedua adalah melepaskan kesetiaan mereka kepada lingkungan fisik dan sosial yang tidak menawarkan banyak hal untuk mereka lakukan selain merawat suami, anak dan rumah.

Sejatinya wanita mengetahui apa yang ingin dia lakukan, kebebasan didapat tanpa memikirkan kontrol sosial, tanpa merasa bersalah.

Media sosial menjadi ruang komunikasi membahas seperti apa sebenarnya wanita bersikap, perbedaan pendapat pun terjadi pada diskusi antara wanita itu sendiri. Seperti apa seharusnya wanita membentuk dirinya? Apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan?.

Sebagian ada yang berpendapat bahwa lebih baik menjadi ibu rumah tangga tanpa bekerja karena itulah wanita sejati dan sebagian berpendapat untuk tetap bekerja, bebas menentukan karirnya.

Tidak bisa dipungkiri sebenarnya ini kembali pada diri wanita itu sendiri, memahami bagaimana sebenarnya kebahagian yang ingin dicapainya.

Perbedaan pendapat inipun juga mempunyai konsekuensi dari segala keputusan yang diambil wanita, tidak jarang juga tingkat depresi menjadi tinggi pada wanita bekerja karena harus mengurus keluarga dan anak, sekaligus persoalan-persoalan dunia kerjanya.

Membahas permasalahan wanita maka dapat dikaitkan dengan ranah komunikasi. Komunikasi merupakan penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain melalui media, apakah tatap muka atau menggunakan media online sehingga berkomunikasi dengan orang lain dapat efektif. Umpan balik dilakukan untuk memastikan pemahaman yang sama dari pesan yang disampaikan.

Melihat isu-isu wanita yang disampaikan sebelumnya, maka wanita untuk bisa menyampaikan pemikirannya harus dapat mengkomunikasikan dengan baik kepada keluarga maupun suaminya.

Keputusan untuk bekerja seharusnya menjadi hak setiap manusia dalam meraih masa depan, tetapi di Indonesia sendiri juga tidak terlepas dari budaya patriarki, laki-laki menjadi pemimpin dan penentu dalam mengambil keputusan. Laki-laki memegang kekuasaan dalam rumah tangga.

Permasalahan yang terjadi pada diri wanita tidak terlepas pada bagaimana seharusnya membina hubungan satu sama lainnya, wanita bebas untuk berpendapat dan mengaktualisasikan diri tetapi ketika sudah membina hubungan dengan lainnya, maka
perlu adanya keputusan yang sama-sama melibatkan keduanya.

Joseph A DeVito (2011) dalam bukunya ‘Komunikasi Antarmanusia‘ menjelaskan bagaimana sebaiknya membina hubungan antarpribadi yang efektif.

Ada 5 kualitas yang harus dipertimbangkan, yaitu 1) saling terbuka; 2) memiliki empati; 3) sikap saling mendukung; 4) sikap positif; dan 5) kesetaraan.

Oleh karena itu jika dalam membina hubungan terdapat 5 kualitas tersebut maka hubungan satu sama lainnya akan tercipta dengan baik. Kesetaraan juga menjadi faktor langgengnya sebuah hubungan, penyampaian pesan tidak melihat pada siapa orang yang berbicara, tetapi seperti apa pesan-pesan yang disampaikan. Tidak melihat pada laki-laki harus bekerja sementara wanita di rumah atau wanita bekerja dan laki-laki menjaga anak.

Membina sebuah keluarga merupakan bagian dari kerjasama kedua belah pihak, bagaimana saling membentuk tim yang baik sehingga hasilnya menjadi keluarga yang bahagia.

Pada era ini juga banyak pekerjaan yang diambil alih oleh wanita, atau laki-laki sebagai pimpinan juga memerlukan bantuan wanita untuk bekerja di luar rumah. Kordinasi kedua belah pihak akan saling membantu pasangan tanpa merasa beban bertambah.

Kembali pada peran wanita di era revolusi industry 4.0, persoalan wanita kerena ranah domestik sehingga wanita berhenti bekerja dengan adanya internet of things banyak sekali saat pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah.

Para pekerja orang-orang kreatif tidak memerlukan waktu bekerja yang harus ditetapkan berada di kantor dari pagi sampai sore, mereka bekerja tidak berdasarkan waktu akan tetapi deadline maka wanita dapat mengatur waktu sesuai yang mereka perlukan. Hanya saja pekerjaan ini membutuhkan skill sehingga pembinaan terhadap wanita perlu untuk dilakukan terus dalam penyesuaian kompetensi mereka di dunia kerja.

Pemasaran digital juga terus berkembang, pekerjaan juga bisa dilakukan di rumah melalui online. Selain itu wanita dapat membuka usaha yang bisa dilakukan di rumah.

Perubahan dalam dunia kerja terus terjadi, tatap muka semakin jarang dilakukan, berbagai pekerjaan dapat dilakukan melalui internet seperti email, chatting, meeting secara online.

Kerja sama dari pemerintah, swasta dan dukungan keluarga akan memudahkan peran wanita untuk ikut serta dalam pembangunan Indonesia.

 

Penulis : Nita Rimayanti, M.Comm
Founder LPK Pabrik Cerdas Commit

Comments

Pos terkait