Buya DR Syekh Muhammad Nur Ali: Jawab Tantangan Zaman dengan Akhlak Mulia dan Intelektualitas

  • Whatsapp
Buya DR Syekh Muhammad Nur Ali

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU – “Tentu siapapun bersepakat bahwa nilai-nilai yang mulia tersebut penting untuk dididik pada

setiap generasi. Dengan mengajarkan sikap mulia dalam dunia pendidikan, seseorang tak hanya mampu menjadi seorang yang terdidik tetapi juga memiliki akhlak mulia.

”Globalisasi telah mengubah banyak tatanan di tengah hidup masyarakat.Globalisasi juga banyak meggeser perilaku dan sikap hidup anak manusia. “Jawaban terhadap persoalan itu adalah dengan menerapkan akhlak yang mulia disertai dengan intelektuliatas yang tinggi,” kata Buya Doktor Syekh Muhammad Nur Ali, S.Ag, M.Hum.

Menurut Pimpinan Tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah, murid, putera sekaligus Mursyid penerus Tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah dari Buya Syekh Doktor Salman itu; setinggi apa pun kemajuan peradaban umat manusia di muka ini, asal tetap berlandaskan kepada dua prinsip yang disebutkan tadi, diniscayakan akan bisa melewati berbagai
macam “badai.”

Ke depan, menurut Syekh Nur Ali, tantangan yang dihadapi akan semakin berat. Oleh karena kemajuan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), antaranya, terjadi sejumlah pergeseran nilai dan perilaku di tengah masyarakat.

Dampaknya, antara lain, terjadinya apa yang disebut dengan iman yang rusak, anak-anak yang tidak sholeh, hancurnya hubungan suami-isteri, dan putusnya silaturahmi serta kerusakan yang ditimbulkan oleh HP (hand-phone).

Kemajuan teknologi, menurut Syekh Nur Ali, bukan sesuatu yang harus dilawan, ditakuti, dijauhi, dan sejenisya. Selagi semua produk dari kemajuan ilmu pengetahuan itu dinilai
membawa kemaslahatan bagi kepentingan umat dan pengembangan agama Islam, maka produk teknologi dimaksud harus diterima untuk mempermudah urusan-urusan dalam menjalani kehidupan dan untuk lebih syiarnya agama di muka bumi ini.

Makanya, menurut Syekh Nur Ali, sikap hormat, mengasihi, menyayangi, jujur, ikhlas, dermawan dan sikap mulia lainnya sudah sepantasnya dimiliki oleh setiap manusia.

“Jika dalam kehidupan ini semua orang memiliki sikap-sikap seperti itu, tentu hidup akan terasa tenteram dan damai. Tentu siapapun bersepakat bahwa nilai-nilai yang mulia tersebut penting untuk dididik pada setiap generasi,” katanya.

Dengan mengajarkan sikap mulia dalam dunia pendidikan, ditambahkan Syekh Nur Ali, seseorang tidak hanya mampu menjadi seorang yang terdidik, tetapi juga memiliki akhlak mulia.

“Akhlak yang baik juga sepatutnya diterapkan dalam dunia berbisnis, sehingga pengusaha ataupun penjual akan mudah dipercaya oleh pembeli sebab memiliki sikap yang jujur,” ia menambahkan.

Berubah Drastis

Dikatakan Syekh Nur Ali, jemaah tariqat yang ia pimpin disiapkan untuk menjadi ulama yang memiliki intelektualitas tinggi, selain dilandasi dengan akhlak yang mulia, sebagaimana diwariskan oleh abi Muhammads SAW. “Kalau kedua pegangan itu tetap dijadikan sebagai
panduan, insya Allah seberat apa pun tantangan kehidupan di muka bumi ini akan bisa dilalui dengan baik,” tambahnya.

Dijelaskan Syekh Nur Ali, di lingkungan jemaah tariqat yang dipimpinnya, sudah dibuat sejumlah penggarisan, antara lain seorang khalifah mesti berpendidikan minimal S1, sedangkan syekh muda harus berpendidikan S2. Pada program yang diusungnya, akan dibiayai dan segera
dibuat yayasannya. “Program yang akan diusung adalah bertajuk ulama yang intelektual dan intelektual yang ulama,” katanya.

Selain itu, tambah Syekh Nur Ali, ada juga program memberantas buta aksara Al-Quran melalui program binaan kampung sakinah yang diadakan 10 hari. “Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan semakin banyak umat yang pintar mengaji, rajin sholat di masjid secara berjamaah
serta membentuk keluarga sakinah, mawadah dan warohmah,” kata Syekh Nur Ali menutup pembicaraan.

Seorang jamaah mengakui realitas yang ia temui di lingkungan Tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah yang dipimpin Syekh Nur Ali sesuatu yang jauh di luar perkiraan dan bayangannya.

Hj Nur Ismi SH, jamaah dimaksud, menceritakan jauh sebelum bergabung, ia
membayangkan mereka yang tergabung dalam kelompok tareqat adalah orang-orang tua yang sudah sepuh, bongkokan, dan nyaris tidak bisa melakukan kegiatan apa pun lagi.

“Ini diperberat oleh realitas bahwa kelompok masyarakat seperti itu biasanya menjalani hari-hari untuk melakukan pengajian di sebuah tempat yang jauh dari standar layak,” kenangnya.

Pokoknya, imbuh Nur Ismi, bila menyebut kelompok tarekat, maka bayangan yang berkelabat dipikirannya adalah kumpulan orang-orang yang menjalani hari-hari di tengah sungkupan aneka keterbatasan.

“Subhanallah, ternyata realitas yang saya temui bertolak belakang dari itu,” ia menambahkan.

Setelah menjadi bagian dari anggota tareqat, Nur Ismi menyaksikan sendiri bahwa kelompok pengajian itu sudah mengalami perubahan yang drastis dalam keseharian mereka. Mereka yang dulu terbelakang dalam banyak hal, terutama untuk urusan-urusan yang bermuatan duniawi, kini sudah menempatkan diri sebagai bagian dari peradaban masyarakat modern.

“Bahkan fakta modernitas yang ditunjukkan mereka mampu mengalahkan bagian kelompok masyarakat lainnya,” paparnya. Mereka, imbuh Nur Ismi, sudah menjalani hari-hari di rumah suluk dengan bangunan megah dan elegan, dilengkapi aneka produk dari kemajuan teknologi modern.

“Pimpinannya menunggangi mobil mewah, seperti layaknya pejabat tinggi. Tapi tetap
dengan tidak menanggalkan watak aslinya sebagai jamaah tareqat,” tandasnya.

Comments

Pos terkait