Komunikasi Virtual tak Pengaruhi Kinerja Kerja

  • Whatsapp
Talk Show yang dilaksanakan Haluan Riau dan riaumandiri.id dengan tema Komunikasi Virtual dan Produktivitas Kerja

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU – Komunikasi virtual secara umum tidak memengaruhi kinerja kerja karyawan baik di instansi pemerintah maupun swasta. Justru komunikasi ini memiliki banyak keunggulan di antaranya menekan biaya dan memangkas jarak.

Demikian salah satu poin penting yang dihasilkan dari focus group discussion (FGD) Haluan Riau 3 M (Memakai masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan Pakai Sabun) yang digelar secara virtual, Kamis (19/11). Kegiatan ini digelar secara live melalui facebook Haluan Riau dan portal berita riaumandiri.co.

Haluan Riau kembali melaksanakan Focus Gruop Discussion (FGD) secara virtual pada Kamis (19/11), kali ini dengan mengangkat tema: Komunikasi Virtual dan Produktivitas Kerja.

Empat pembicara dihadirkan dalam diskusi virtual zoom-in webinar yang dipandu langsung Pemimpin Redaksi Haluan Riau Doni Rahim, yakni Communications Manager at PT RAPP Budhi Firmansyah.

Lalu, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau Eka Putra, Kepala KPKNL Pekanbaru Rachmat Kurniawan.
Para pembicara mendiskusikan terkait komunikasi virtual dan produktivitas kerja yang selama ini telah dilakukan dari berbagai kalangan selama masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Pembicara pertama, Kepala KPKNL Pekanbaru Rachmat Kurniawan mengatakan bahwa kinerja di instansi mereka tidak begitu terganggu secara keseluruhan sejak komunikasi virtual di internal KPKNL diterapkan.

Hal itu dikarenakan instansi di bawah naungan Kementerian Keuangan ini sudah menerapkan cara kerja digitalisasi.

Sehingga saat pandemi Covid 19 mewabah, karyawan di lingkungan instansi itu hanya membutuhkan penyesuaian belaka.

“Bekerja secara virtual sudah dilakukan dan sudah ada persiapan, memang mungkin sedikit sekali penyesuaian yang kami lakukan,” jelas Rachmat.

Pihaknya pun sudah melakukan evaluasi pada bulan Oktober sejak diterapkan cara kerja virtual pada bulan April 2020 lalu, dan hasilnya ternyata tidak menurunkan kinerja para pegawai.

“Dalam hal ini, 95 persen bisa mempertahankan kinerja, 40 persen bisa meningkatkan kinerja dari sebelumnya, hanya kurang 10 persen yang kinerjanya menurun,” tambahnya lagi.

Secara garis besar, yang mengalami penurunan diakibatkan faktor umur dan kurangnya kemampuan menguasai aplikasi hingga membuat lambatnya penyesuaian.

Sementara itu, Communications Manager at PT RAPP Budhi Firmansyah mengaku selama pandemi Covid 19 telah menerapkan Work From Home (WFH) bagi pegawainya. Kemudian melakukan pembatasan perjalanan dinas keluar bagi karyawan, serta membatasi tamu yang masuk ke areal perusahaan.

Penerapan WFH dijalankan dengan pola pembagian jam kerja, misalnya dalam satu lembaga dibagi menjadi dua atau tiga kelompok yang per dua hari diberlakukan WFH.

“Strateginya, perusahaan menetapkan jam kerja berbeda guna meminimalkan karyawan, seandainya diberlakukan jam normal tentu aktifitas interaksi cukup tinggi,” jawab Budhi.

Meski WFH, karyawan memang harus benar-benar bekerja di rumah. Komputer harus tetap online dan hal itu tetap ada dilakukan pemantuan oleh perusahaan.

Komunikasi virtual di perusahaan bubur kertas tersebut sebenarnya sudah diterapkan jauh sebelum covid-19 mewabah. Dulu ada aplikasi teleconference digunakan untuk komunikasi antar unit kantor yang ada di Pelalawan dengan kantor pusat yang ada di Singapura atau Jakarta.

Lanjut Budhi, penggunaan komunikasi virtual sejauh ini tidak berpengaruh pada kinerja kerja karyawan.
“Pertemuan virtual kita butuhkan saat pertemuan mingguan, sangat penting untuk berkomunikasi dan berkoordinasi baik internal maupun eksternal,” tukasnya.

Di sisi lain, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau Eka Putra menyebut bahwa individu saat ini sudah mulai terbiasa dengan aktivitas dunia maya.

Disebutkannya, efisiensi komunikasi virtual sangat banyak memberikan keuntungan kepada pengguna. “Efesiensi nya sekarang tidak saja hemat waktu juga hemat biaya. Biasanya dalam waktu sehari hanya bisa bertemu empat atau lima orang, dengan komunikasi virtual bisa lebih dan bervariasi,” jelasnya.

Individu akan lebih produktif jika berinteraksi melalui komunikasi virtual namun dengan beberapa catatan. “Akan lebih produktif, namun untuk mencapai ke sana sangat tidak mudah harus menguasai teknologi itu sendiri,” tukasnya.

Pandemi covid-19 di satu sisi memang menuntut manusia agar lebih kreatif. Kendala mendorong manusia lebih berkreasi itulah yang terjadi. Hanya saja, Eka Putra mengingatkan, bahwa masyarakat komunikasi virtual harus tetap memperhatikan aturan dan norma dalam berkomunikasi. Sebab, komunikasi virtual masuk dalam ranah UU ITE yang jika penggunanya salah menggunakannya bisa terancam pidana.

Sesi FGD dilanjutkan dengan tanya jawab. Sedikitnya ada 50 peserta yang gabung dalam zoom-in yang berasal dari berbagai kalangan dan profesi.

Comments

Pos terkait