Pemilik Pabrik Nata de Coco di Kampar Bakal Surati Dewan Pers, Ini Penyebabnya

  • Whatsapp
Hutomo Lim, pemilik industri rumahan pengolahan bahan baku nata de coco di Jalan Lembah Damai, Desa Pandau Permai, Kampar.(Istimewa)

HALUANRIAU.CO, BANGKINANG – Hutomo Lim membantah tudingan sejumlah media yang menyudutkan usaha yang dikelolanya. Atas hal itu, dia berencana akan melaporkan hal tersebut ke Dewan Pers.

“Saya tidak ambil hak jawab di media itu. Saya akan menyurati Dewan Pers untuk mendiskusikan apakah yang dilakukan media itu melanggar kode etik. Saya juga akan tunjukan screenshot (tangkapan layar,red) percakapan yang tidak layak,” ujar Hutomo Lim, Minggu (1/11).

Hutomo Lim adalah pemilik industri rumahan pengolahan bahan baku nata de coco di Jalan Lembah Damai, Desa Pandau Permai, Kampar. Usaha tersebut, menurut sejumlah media, diduga tidak mengantongi izin dan pengelolaannya dilakukan tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Atas hal itu, dia memberikan penjelasannya. Dikisahkannya, pemberitaan miring itu bermula dari kedatangan dua oknum wartawan ke pabrik miliknya pada Selasa (27/10) lalu. Saat itu, sang oknum mengambil gambar dan video tanpa seizinnya. Kebetulan saat itu Hutomo Lim tengah berada di Jakarta.

“Mereka kemudian meminta nomor HP saya ke karyawan saya dengan terkesan memaksa. Mereka lalu menghubungi saya, dan sempat terjadi perbedaan pendapat,” sebut dia.

Menurut dia, oknum wartawan itu terkesan kasar dan diduga memiliki niat tak baik. Atas hal itu, pihaknya memilih untuk tidak terlalu menggubris.

“Saya sangat menghormati kebebasan pers. Tapi ini lain persoalan, karena orang yang datang ke kita pakai cara kasar. Tentu saya merasa terganggu,” kata Hutomo Lim.

“Mereka tanyakan izin. Karena mereka pakai cara memaksa memeriksa izin, jadi saya memang tidak lihatkan (izin). Kita juga punya ego, apalagi pakai caranya seperti itu,” sambungnya.

Setelah perdebatan tersebut, muncullah pemberitaan yang menyebutkan bahwa bisnis digelutinya diduga tidak memiliki izin. Disebutkannya, tudingan itu tidak benar, dan menilai pemberitaan tersebut hanya berasumsi.

Dijelaskannya bahwa usaha yang didirikannya masih berskala industri rumahan, yang telah mengantongi izin dari Dinas Kesehatan, Perizinan Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau.

“Kita punya izin dari Dinas Kesehatan, PIRT dan kita juga memiliki setifikat halal dari MUI Provinsi Riau,” tutur dia.

Masih dalam pemberitaan itu, juga disampaikan bahwa pihaknya mengolah nata de coco dengan proses yang tidak layak. Dalam bantahannya, Hutomo Lim menyampaikan sejumlah poin.

Yang pertama, kata dia, berita yang dimuat tidak menjelaskan proses secara keseluruhan pengolahan nata de coco. Yang dimuat di media itu hanya sebagian kecil proses pengolahan bahan baku nata de coco siap panen.

“Kami dalam bekerja ada SOP-nya. Mungkin mereka (oknum wartawan,red) itu hanya melihat proses awal. Memang ada percikan. Namanya orang kerja dan siap panen. Saya rasa wajar begitu kondisinya. Tapi ini masih awal, masih banyak lagi proses yang dilalui,” jelas Hutomo.

Hutomo kemudian menjelaskan proses pengolahan nata de coco secara terperinci. Bahan baku yakni air kelapa murni dimasak terlebih dahulu hingga mendidih, kemudian dicampurkan formulasi lainnya. Keesokan harinya, dilakukan proses fermentasi dengan penambahan bakteri. Hal ini berlangsung selama tujuh hari.

Saat fermentasi, peran bakteri mengubah glukosa dalam air kelapa menjadi serat-serat yang pada akhirnya menjadi lapisan-lapisan nata. Setelah proses fermentasi ini, nata de coco dimasukan ke ruangan potong, dipotong berbentuk ukuran dadu. Kemudian dibilas berkali-kali dengan air bersih.

“Masih ada satu proses lagi namanya disortir. Potongan harus sesuai dadu, baru dipacking. Kemudian dipress dengan dihilangkan kadar airnya. Yang awalnya dadu kotak berukuran 1,2×1,2,  akhinya jadi tipis seperti tisu,” lanjutnya memaparkan.

Dia mengatakan, nata de coco itu hanya sampai pada tahap produksi dengan ukuran tipis. Bahan baku ini kemudian didistribusikannya ke pabrik lain untuk diolah menjadi minuman nata de coco.

“Saya hanya jual bahan baku nata de coconya saja. Nanti di pabrik lain, prosesnya masih jauh untuk kemudian dikemas menjadi minuman. Di sana, bahan nata de coco dari kita yang tipis itu dimasak lagi hingga mendidih sampai tiga kali,” beber dia.

“Kemudian ditambahkan sirup, dan dikemas. Kalau di sana sudah melalui pemeriksaan BPOM. Jadi apa yang diberitakan itu sangat mengada-ngada,” pungkas dia.

Penulis : Dodi Ferdian

Comments

Pos terkait