Kopi Tiam dan Secangkir Rindu Kampung Halaman

  • Whatsapp

 OLEH: RAHMAD AGUS SURYADI

Mahasiswa Institut Pertanian Stiper Yogyakarta

Pegiat Komunitas Literasi Kembul.id

HALUANRIAU.CO – Sudah lima tahun lamanya saya tidak menginjakan kaki saya di kota ini, kota dengan kearifan lokal berbalut asimiliasi budaya Tionghoa-melayu, yaitu kota Bagan Siapi-Api. Bagan Siapi-Api atau Bagan Api adalah kota yang terletak di muara sungai Rokan Hilir, di pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir.

Saya coba menikmati setiap sudut kota yang penuh warna cerah khas Tionghoa dan ke ramahan masyarakatnya yang begitu luar biasa, tidak lupa saya mampir ke kedai kopi tua yang banyak di temukan di sepanjang jalan Perdagangan dan sekitarnya. Lalu saya pesan kopi hitam dan sepiring roti bakar hingga tanpa disadari saya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kota ini.

Kota dengan luas yang tidak melebihi lima ratus kilo meter persegi ini banyak menyimpan kenangan kerinduan semasa remaja saya, dan tidak hanya itu kota tersebut juga banyak sekali menyimpan kekayaan sejarah khasanah intelektual bagi siapapun yan ingin mempelajarinya. Terlebih pada 4 Oktober sebagai momentum peringatan hari jadi Kabupaten Rokan Hilir, sangat tepat rasanya jika kita berkontemplasi dan mengutip serakan makna Negeri Seribu Kubah.

Bagaimana tidak, kota yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan internasional membuat kota ini menjadi wilayah strategis dalam pengembangan ekonominya. Kota Bagan Siapi-Api juga menjadi kota nelayan yang memproduksi ikan terbesar ke-2 setelah kota Bergen di Norwegia, di lansir dalam surat kabar De Indische Mercuur pada tahun 1928.

Dikarenakan hasil perikanan yang begitu pesat, kota ini menjadi perhatian khusus pemerintah Hindia Belanda dengan melengkapi fasilitas publik seperti pembangkit tenaga listrik, pemadam kebakaran dan Menara pengolahan air minum atau di sebut Menara air Leding (Leiding Water) pada tahun 1934. Bahkan kota Bagan Siapi-api disebut-sebut menjadi kota Ville Lumiere atau Kota Cahaya.

Namun dalam tulisan ini saya tidak akan bercerita tentang kejayaan silam dan romantisme sejarah kota Bagan Siapi-api, tetapi saya mencoba melalui pendekatan yang berbeda. Saya coba membaca kekayaan antropologi budaya melalui secangkir Kopi Tiam khas Bagan Siapi-api. Dimana hadir semacam kesepakatan bersama yang memanifestasikan bentuknya dalam secangkir Kopi Tiam, berhubung pada 1 Oktober adalah hari kopi se-dunia.

Kopi Tiam bukan bagian dari deretan menu seperti Cappcino, Espresso, atau kopi boba yang ada di Caffe-Caffe di kota besar lainnya, Tetapi Kopi Tiam adalah semuanya dengan segala kesederhanaannya. Saya yakin kopi ini sudah tidak asing lagi bahkan sudah sangat familiar bagi pecinta kopi dan senja. Jika ditelaah arti Kopi Tiam secara etimologi terdiri dari dua bahasa, yaitu bahasa melayu dan bahasa hokkien dengan arti Kedai Kopi. Secara sejarah kopi Tiam hadir melalui tangan-tangan terampil Tionghoa yang mengadu nasib ke Nusantara seperti Singkawang, Riau, dan Medan. Awalnya kedai kopi ini diperuntukan sebagai tempat serapan serdadu Inggris, hingga menu yang disajikan mengadaptasi kebiasaan orang Eropa dan Asia seperti kopi dan roti.

Bahkan kopi Tiam tertua yang pernah tercatat berada di Singkawang dengan nama Warung Kopi Nikmat terletak di jalan Diponogoro yang berdiri sejak tahun 1930-an, warung tersebut sudah berestafet dari generasi ke generasi dan sekarang di pegang oleh generasi ke empat. Di Bandung juga memiliki Kopi Tiam tertua berdiri pada sekitaran  tahun yang sama dengan nama awal Chan Chong Se dengan arti mari berkumpul, lalu pada tahun 60-an seiring dengan kebijakan pemerintah mengharuskan warung kopi ini berganti nama menjadi Warung Kopi Purnama, dan saya punya janji dengan seseorang untuk berkunjung ke Warung Kopi Purnama.

Bersyukurlah saya dapat menikmati peninggalan sejarah dan merasakan semangat yang tertanam dalam kopi Tiam secara autentik. Sebab banyak sekali warung kopi bernuansa Kopi Tiam tapi hanya hasil dekorasi, dan menu yang dijualpun sudah mengikuti peralihan arus modern warung kopi lainnya, jelas saja suasana yang disajikan tidak akan pernah sesuai dengan Kopi Tiam yang sebenarnya.

Bukan hanya sebatas iconic dan historical belaka, tapi Kopi Tiam menyajikan sebuah paradigma berfikir kesederhananaan dan kedewasaan dalam bermasyarakat, menjadikan ia tempat Pelepas penat dan peristirahatan rasa rindu secara ikhlas. Jangan ditanya filosofi kopinya apa?, saya tegaskan ini bukan seperti Caffe yang ada di kota besar itu. Pengunjung dengan berbagai macam “topeng”, sudah tidak bisa dibedakan dengan karnaval.

Kepul asap rokok dan sambutan tawa lepas kerap kali menjadi bonus tidak terduga bila berkunjung ke Kopi Tiam. Jika berniat untuk berkunjung hendaknya melepaskan dulu segala arogansi dan ambisius yang ada, sebab tidak akan bisa merasakan esensi dari sajian Kopi Tiam.

Kopi saya sudah kandas kedasar, tidak sadar semburat cahaya kuning sore mulai menerpa. Maka dengan itu saya harus bergegas pulang ke rumah bertemu dengan keluarga tercinta yang sudah lama tidak bertemu.***

Comments

Pos terkait