Jangan Biarkan Karhutla Datang Tahun Ini

  • Whatsapp
Rafli Andifa Hasan, Koordinator Riset Independent Democrasy (IDE)

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU – Covid-19 dan kebakaran hutan dan lahan, sama-sama membuat kita terpaksa untuk harus memakai masker. Keduanya, sama-sama menyerang paru-paru kita, dan juga berkaitan dengan hubungan manusia dan lingkungan yang kita tinggalin bersama.

Yang sama diketahui, kita sedang berjuang melawan Covid-19, maka jangan biarkan karhutla datang pada tahun ini.

Menurut (Nasa & Copernicus Atmosphere Monitoring Service, 2020) karhutla di berbagai negara pada tahun 2020 diprediksi menjadi yang terburuk selama 18 tahun terakhir. Karhutla di negara bagian New South Wales, Australia, kawasan Arktik Siberia, wilayah Pantai Barat Amerika Serikat, dan lahan basah Pantanal di Brasil merupakan yang terburuk dalam 18 tahun terakhir.

Catatan itu merujuk data Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan lembaga penyedia data atmosfer, Copernicus Atmosphere Monitoring Service.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Periode karhutla di Indonesia sebenarnya sudah dimulai beberapa bulan lalu. Namun karhutla sekarang masih tetap terjadi di beberapa wilayah, antara lain Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Jambi, dan Provinsi Riau.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, Edward Sanger menyampaikan terjadi penurunan karhutla di Riau sebanyak 56,5 persen, yaitu sebanyak 15.300 hektare dibandingkan tahun 2019.

Memang pada periode Juli-Oktober merupakan bulan yang rawan terjadi karhutla. Dari data pencitraan satelit Terra/Aqua jumlah hotspot/titik panas (dengan tingkat kepercayaan >=80%) selalu menunjukkan peningkatan pada Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus-September.

Menurut (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) pada tahun 2019 lalu, titik panas karhutla sepanjang 1-18 September 2019 telah terdeteksi sebanyak 10.574 titik, terbanyak dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Sepanjang 2019, hotspot yang telah terdeteksi mencapai 17.774 titik, melonjak lebih dari 86 persen dari total tahun sebelumnya. Jumlah hotspot tahun ini juga merupakan yang tertinggi sejak 2016. Data KLHK mencatat luas karhutla dari Januari hingga September 2019 sebesar 857.756 hektare dengan rincian lahan mineral 630.451 hektare dan gambut 227.304 hektare.

Hal ini menyatakan kebakaran hutan di Indonesia tiap tahun mengalami peningkatan, ini berdampak ke beberapa sektor. Dari segi ekonomi, kesehatan dan lain-lain.

Menurut Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB, 2019 Agus Wibowo memprediksi kerugian materi yang diakibatkan dari karhutla yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia ditaksir mencapai Rp66,3 triliun. Sedangkan dari segi kesehatan, jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat karhutla hingga September mencapai 919.516 orang.

Maka dari akibat yang terjadi pada tahun 2019, tentunya kita semua tidak mau terjadinya karhutla pada tahun ini dikarenakan Covid-19 yang belum tuntas diselesaikan. Karhutla akan memperburuk kesehatan masyarakat.

Untuk itu 3 mahasiswa Universitas Riau, Rafli Andifa Hasan, Fikri Aditya Prayoga, dan Ilham Azanno Akbar mempunyai ide dan gagasan, yaitu Sielang Drone : Drone Pencegah Awal mula Penyebaran Titik Api dalam upaya Memberantas Kebakaran Hutan dan Lahan.

Ide ini bisa di tonton di link youtube berikut ini http://bit.ly/sielang.

Dengan ide ini semoga cepat terealisasi untuk menjawab permasalahan karhuta di Indonesia, terutama di wilayah Provinsi Riau. Tentunya ide ini membutuhkan support berbagai pihak, yaitu pemerintah, kelembagaan terkait dan masyarakat tentunya.

Penulis : Rafli Andifa Hasan
Koordinator Riset Independent Democrasy (IDE)

UEditor : Dodi Ferdian

Comments

Pos terkait