Tahanan Kota, Perkara Dua Tersangka di Disdik Riau Tak Dihentikan

  • Whatsapp
Kejati Riau melakukan penahanan terhadap dua tersangka dugaan korupsi pengadaan media pembelajaran (perangkat keras) Informasi Teknologi dan Multimedia untuk jenjang SMA di Disdik Riau.(Istimewa)

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU – Dua tersangka dugaan di Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau mendapat keistimewaan dengan menyandang status tahanan kota. Kendati begitu, perkaranya tetap lanjut dan diyakini tak akan dihentikan.

Dua tersangka itu adalah HT dan Ril. HT dalam kegiatan itu merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Sementara Ril adalah Direktur PT AJM Cabang Riau.

Untuk sementara, keduanya dianggap bertanggung jawab dalam penyimpangan kegiatan yang dilaksanakan pada 2018 silam senilai Rp23,5 miliar.

Keduanya sempat dijebloskan ke sel tahanan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas I Pekanbaru sejak Senin (20/7) lalu. Penahanan itu menindaklanjuti penetapan keduanya menjadi pesakitan perkara tersebut, dan sempat dinilai tidak kooperatif karena beberapa kali mangkir dari panggilan penyidik.

Dalam proses penyidikan, keduanya telah beberapa kali diperiksa dalam statusnya sebagai tersangka. Belakangan, keduanya dikeluarkan dari rutan dan menjadi tahanan kota pada Jumat (7/8) kemarin.

Adapun alasan pengalihan, yakni ada permohonan yang bersangkutan yang ditujukan kepada tim penyidik. Permohonan itu dengan alasan, tidak akan melarikan diri, mengulangi pidana, dan menghilangkan barang bukti.

Permohonan itu didukung dan dijamin oleh pengacaranya dan istri para tersangka. Dalam pengalihan penahanan itu, penyidik membantah adanya jaminan uang.

Mengingat saat ini kondisi di Indonesia termasuk di Pekanbaru masih dalam pandemi Covid-19, itu juga menjadi alasannya dikabulkannya permohonan pengalihan status penahanan.

Saat ditanya perkembangan penanganan perkara, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Hilman Azazi mengatakan, proses penyidikan masih berjalan. Perkara itu dimungkinkan akan berkembang.

“Perkara berproses, bahkan kita kembangkan nanti,” ujar Hilman kepada Haluan Riau (Haluan Media Group), Rabu (12/8).

Saat ini, penyidik masih berupaya melengkapi berkas perkara dengan pemeriksaan saksi-saksi. Hasilnya nanti akan dibawa dalam ekspos untuk memastikan kelanjutan perkara.

“Tim penyidik tetap bekerja terus. Nanti akan ada rapat-rapat lagi. Kita akan bersikap, apakah tersangka akan bertambah. Yakinlah,” imbuh mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Ponorogo, Jawa Timur (Jatim) itu.

Sebelumnya, Kepala Kejati (Kajati) Riau Mia Amiati pernah memaparkan peran para tersangka dalam perkara tersehut. Menurut dia, HT selalu PPK tidak melakukan survei harga pasar dalam kegiatan pengadaan tersebut, mesti pelaksanaanya menggunakan e-Calatog.

Hafes yang saat itu menjabat Kepala Bidang (Kabid) SMA, disinyalir menyusun harga perkiraan sendiri (HPS) berdasarkan pesanan broker, melakukan pengadaan dengan bersekongkol dengan pihak ketiga, serta menerima gratifikasi dan fasilitas dari pihak ketiga.

“Untuk tersangka Ril, perbuatannya bersekongkol menentukan spesifikasi barang dengan tersangka HT,” beber mantan Wakajati Riau itu.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) junto Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dirubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP.

Untuk diketahui, kegiatan itu dikerjakan pada tahun 2018 lalu oleh Disdik Riau. Adapun dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Riau senilai Rp23,5 miliar.

Selain kegiatan tersebut, Korps Adhyaksa juga tengah mengusut dua kegiatan lainnya di Disdik Riau. Adapun kegiatan dimaksud adalah pengadaan komputer untuk pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sekolah Menengah Atas (SMA), dan di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Pengusutan dugaan penyimpangan terhadap dua kegiatan tersebut masih dalam tahap penyelidikan.

Penulis : Dodi Ferdian

Comments

Pos terkait