Dugaan Kecurangan Pilwana, Puluhan Massa Gelar Aksi Protes di Lubuk Layang Pasaman

  • Whatsapp
Tangkapan layar aksi massa protes hasil Pilwana Nagari Lubuk Layang. (Harianhaluan.com)

HARIANHALUAN.COM-Penyelenggaraan pemilihan Walinagari (Pilwana) diprotes puluhan massa pendukung salah satu calon. Mereka menduga terjadi kecurangan dalam pemilihan.

Aksi protes tersebut terjadi di Nagari Lubuk Layang, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Senin (11/8/2020). Massa minta penghitungan suara diulang. Mereka menilai ada kecurangan secara terstruktur, sistematis dan masif selama proses Pilwana hingga saat tahapan pencoblosan dan penghitungan suara dilaksanakan, akibatnya merugikan jagoan mereka, kandidat calon walinagari nomor urut 3, Syafril.

Bacaan Lainnya

Dalam aksinya sejumlah massa membentangkan berbagai poster dan tulisan bernada kecaman yang ditujukan kepada panitia Pilwana setempat. Diantaranya, massa menuding Panitia Pilwana Nagari Lubuk Layang tidak transparan serta menuduh sengaja berbuat curang untuk memuluskan kemenangan salah satu kandidat.

“Terjadi masalah Nagari Lubuk Layang, Rao Selatan. Masalahnya adalah, cara mencoblos. Mencoblos satu calon tembus kebelakang, dianggap batal (hangus). Padahal, di 24 nagari lain yang menggelar pilwana serentak hal serupa dianggap sah,” ungkap salah seorang warga.

Sementara calon Walinagari nomor urut 3, Syafril menuding minimnya sosialisasi pemilihan walinagari dari panitia Pilwana serta tingkat kelalaian pihak panitia sangat tinggi menjadi biang kekalahannya dari kandidat nomor urut 2, Muhammad Uldi, pada Pilwana serentak di 24 nagari, 9 Agustus 2020.

“Banyak masyarakat didzolimin haknya oleh panitia. Bahkan, panitia kabupaten juga sudah menegaskan, bahwa sah surat suara yang tercoblos dua lubang, dalam kertas yang sama, asal tidak mengenai poto kandidat lainnya itu sah, tidak hangus,” ujar Syafril.

Menurutnya, Nagari Lubuk Layang, sangat berbeda dengan nagari nagari lain yang serentak menggelar pilwana di Pasaman. Mereka, kata dia, bisa koordinasi dengan Panitia ditingkat kecamatan, namun hal itu tidak dilakukan di nagari tersebut.

“Ke DPM pun mereka enggan melakukan koordinasi, kenapa bisa seperti itu. Seharusnya ada kerjasama yang baik dari panitia. Ini tidak, tahapan demi tahapan, sudah banyak melakukan kesalahan,” ungkap Syafril.

Dikatakan, jika gelaran pilwana dilakukan dengan jujur dan adil, tanpa ada pendzoliman, ia tidak menyesalkan kekalahan dirinya dalam gelaran pilwana tersebut. Menurutnya, kalah menang itu hal biasa dalam sebuah demokrasi.

Untuk menghindari gelombang protes yang lebih besar, Ia meminta pemerintah daerah menaruh perhatian serius atas persoalan pemilihan walinagari di kanagarian tersebut. (*)

Sumber: Harianhaluan.com (Haluan Media Group)

Comments

Pos terkait