Jalankan Amanah Leluhur, Keturunan Raja Riau Lingga Ingin Kembangkan TNAJ di Kepulauan Riau

  • Whatsapp
Raja Ibrahim saat berziarah di Makam Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabillah (Raja ke empat Kerajaan Riau Lingga) bersama jemaah Thareqat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah di Pulau Penyengat, Minggu (26/7/2020).

HALUANRIAU.CO, TANJUNG PINANG – Keturunan kerajaan Riau Lingga, sepakat mengembangkan ajaran Thareqat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah (TNAJ) untuk masyarakat Pulau Peyengat khususnya dan umumnya masyakarat yang tinggal di wilayah Propinsi Kepulauan Riau.

“Hal ini sebelumnya sudah saya sampaikan pada Mursyid Thareqat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah DR Syech Muhammad Nur Ali sewaktu saya mengikuti ibadah Suluk di Bandar Tinggi Sumatera Utara. Beliau menyetujui ajaran Thareqat yang dipimpinnya dikembangkan untuk masyarakat Kepri khususnya di wilayah Pulau Penyengat,” ujar Raja Ibrahim keturunan ketujuh Raja Haji Fisabilillah Yang Dipertuan Muda ke IV Kerajaan Riau, Lingga, Johor, Pahang dan Temasek (Singapura) saat bertemu haluanriau.co, Minggu (26/7) di Pulau Penyengat.

Pengembangan ajaran Thareqat Naqsabandiyah ini lantaran amanah dari leluhur Kerajaan Riau Lingga itu sendiri agar seluruh anak cucu dan masyakarat Pulau Penyengat mempelajari serta mengikuti amalan Thareqat Naqsabandiyah.

Menurut Raja Ibrahim, Thareqat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah adalah amanah yang dimaksudkan oleh leluhurnya Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, yang merupakan imam Thareqat Naqsabandiyah Kerajaan Riau Lingga.

Disebutkannya juga bahwa Pulau Penyengat sejak abad ke 18 sudah menjadi pusat Tareqat Naqsababdiyah.

Amanah itu disampaikan oleh tuan guru Haji Hidayah Munir anak murid dari Mursyid Thareqat Naqsabandiyah Prof Haji Jalaluddin pada tahun 1983 kepada Raja Ibrahim.

Selanjutnya, kata Raja Ibrahim, dia mulai mengikuti ajaran Thareqat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah berawal dari kunjungan tuan guru Syech Muhammad Nur Ali ke Pulau Penyengat dan bertemu dengannya.

“Setelah bertemu Buya Syech Muhammad Nur Ali, saya langsung baiat dan mengikuti ibadah suluk di Medan, Sumatera Utara. Alhamdulillah amanah leluhur sudah saya jalankan,” sebutnya.

Raja Ibrahim juga menyampaikan bahwa, Pulau Penyengat sudah memprogramkan kegiatan Tawajjuh Akbar yang merupakan rangkaian ibadah suluk secara internasional di Pulau Penyengat.

Ini menindaklanjuti setelah ditetapkannya pulau Penyengat sebagai pulau perdamaian dunia pada tahun 2019, lalu.

“Program ini masih terkendala covid 19. Semoga setelah ini program Tawajjuh Internasional Thareqat Naqsabandiyah Internasional dapat terlaksana di Pulau Penyengat. Karena sebelumnya, di sini sudah dikunjungi perwakilan ulama dunia dari 25 negara beberapa waktu lalu. Dengan terlaksananya program itu nanti kami harapkan ajaran Thareqat Naqsabandiyah bisa diikuti oleh seluruh anak cucu keturunan Kerajaan Riau Lingga, umumnya masyarakat Kepulauan Riau,” ucapnya.

 

 

 

Reporter: Zuhdi Ansari

Comments

Pos terkait