Tetap Tak Kooperatif, Kejati Bakal Buru Mantan Kadisdik Riau

  • Whatsapp
Mantan Kadisdik Riau, Rudyanto.(Internet)

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU – Sikap tak kooperatif ditunjukkan Rudyanto. Pasalnya, surat panggilan penyidik pada Kejaksaan Tinggi (Kejati) tidak diindahkan mantan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Riau itu. Jika tetap begitu, penyidik akan memburu keberadaannya.

Sejatinya, Rudyanto yang saat ini menjabat Staf Ahli Gubernur Riau diperiksa sebagai saksi dalam perkara dugaan korupsi dugaan korupsi pengadaan media pembelajaran (perangkat keras) berbasis Informasi Teknologi dan Multimedia untuk jenjang SMA di Disdik Riau, pada Senin (13/7) kemarin. Namun, yang bersangkutan memilih tidak hadir.

Ketidakhadiran Rudyanto itu diketahui tanpa tanpa adanya alasan dan pemberitahuan. Hal ini sangat disesalkan penyidik, yang memastikan telah menyampaikan surat panggilan jauh-jauh hari.

Insya Allah, (surat panggilannya) sampai,” ujar Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau, Hilman Azazi, Selasa (14/7).

Atas sikapnya itu, Rudyanto bakal terima surat panggilan kedua. Surat itu diyakini telah dilayangkan penyidik.

“Sudah saya tanda tangani. Jadi sistem kita, panggilan hari ini, sore tidak datang, langsung dikirimkan panggilan kedua,” sebut mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Ponorogo, Jawa Timur (Jatim) itu.

Jika pada panggilan kedua itu, mantan Penjabat (Pj) Bupati Indragiri Hilir (Inhil) itu tetap pada pendiriannya tidak hadir, Korps Adhyaksa akan melayangkan surat panggilan ketiga. Tentu saja ada konsekuensi hukum pada pada upaya tersebut. Salah satunya, penyidik akan memburu keberadaan Rudyanto.

“Pemanggilan tiga kali. Kalau tiga kali tak ada, kita cari dia. Kita cari dan kita tanyakan apa alasannya tak hadir,” tegas Hilman Azazi.

Untuk diketahui, kegiatan itu dikerjakan pada tahun 2018 lalu oleh Disdik Riau. Adapun dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Riau senilai Rp23,5 miliar.

Selain kegiatan tersebut, Korps Adhyaksa juga tengah mengusut dua kegiatan lainnya di Disdik Riau. Adapun kegiatan dimaksud adalah pengadaan komputer untuk pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sekolah Menengah Atas (SMA), dan di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Pengusutan dugaan penyimpangan terhadap dua kegiatan tersebut masih dalam tahap penyelidikan.

Dari informasi yang dihimpun, diduga ada praktik ‘kongkalikong’ dalam pembelian komputer/laptop melalui e-katalog. Barang elektronik itu sebagai persiapan peralatan UNBK di Disdik Riau. Kegiatan yang semestinya dilakukan secara independen oleh Disdik Riau terindikasi diatur oleh satu perusahaan. Dimana perusahaan tersebut mengatur dari mulai perencanaan sampai pelaksanaan kegiatan.

Pembelian tahap pertama yang ditaksir sekitar Rp25 miliar, sudah berlangsung dan terindikasi menjadi ‘bancakan’ beberapa perusahaan dan juga dinas pendidikan. Deal-dealan tersebut, dilakukan sebelum kegiatan dilakukan oleh Disdik Riau. Pola yang dilakukan juga terbilang cukup baru dan rapi.

Dimana, pihak Disdik Riau seolah-olah melakukan pembelian secara online melalui perusahaan online shop yang sudah bekerjasama dengan LKPP. Pihak online shop kemudian membeli ke beberapa vendor yang berbeda. Sedangkan, harga yang dibuat telah disesuaikan dengan harga pasar.

PT BMD selaku salah satu perusahaan yang menandatangani kontrak dengan Disdik Riau. Selain itu, terdapat indikasi satu perusahaan sebagai penampung fee untuk beberapa perusahaan yang mengatur kegiatan tersebut.

 

Penulis : Dodi Ferdian

Comments

Pos terkait