Tak Diterima di Jalur Afirmasi, Riyan Anak Yatim di Pekanbaru Ini Terancam Putus Sekolah

  • Whatsapp
Ilustrasi

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU – Mulai hari ini, seluruh siswa sudah memulai pelajaran tahun ajaran baru dengan sistem daring di masa pandemi Covid-19. Tapi tidak bagi Riyan. Remaja yang sudah menjadi yatim ini terancam putus sekolah. Ia hingga saat ini belum juga diterima di sekolah negeri melalui jalur afirmasi atau siswa miskin.

Riyan yang tinggal di Rumbai, Kota Pekanbaru, Riau, ini hanya bisa pasrah bersama ibunya yang hanya seorang tukang ojek. Setiap hari ibunya harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya bersama 3 orang adik-adiknya yang masih di bangku SD dan SMP. Ibunya tak akan mampu menyekolahkan Riyan di sekolah swasta. Kini Riyan hanya berharap bantuan dari Gubernur Riau, agar bisa sekolah di SMK negeri.

Bacaan Lainnya

“Saya sangat ingin sekali melanjutkan sekolah, tapi apa daya ibu saya hanya tukang ojek. Ayah saya sudah meninggal dunia. Saya sudah mendaftar di SMK 7 Pekanbaru dengan jalur afirmasi saat PPDB lalu, tapi hanya waktu dua hari nama saya hilang,” kata Riyan sedih saat berbincang dengan Riaumandiri.id, Sabtu (11/7/2020).

“Saya mencoba lagi mendaftar ke SMK 5, sama lewat jalur afirmasi, tapi di akhir-akhir pendaftaran nama saya kembali hilang. Padahal pada saat pendaftaran terakhir dan penutupan pendaftaran nama saya masih ada. Mau masuk sekolah swasta ibu saya bilang tidak ada biaya. Kini saya berharap kepada pak Gubernur mau memasukkan nama saya di sekolah negeri,” harap Riyan.

Dikatakan Riyan, ia pernah mendengar ada informasi bahwa Pemerintah Provinsi Riau akan menggratiskan sekolah bagi siswa tidak mampu. Namun kenyataannya yang diterimanya tidak seperti yang dikatakan Pemerintah Provinsi Riau. Ternyata siswa miskin seperti dirinya yang juga anak yatim tidak bisa sekolah di sekolah negeri yang katanya tidak berbayar.

“Mewah, mewah yang dikatakan Gubernur ternyata memang hanya untuk yang mewah saja. Bukan bagi kami siswa miskin dan yatim ini. Saya hanya mengandalkan surat miskin dari RT, RW dan lurah, ternyata tak diterima,” cerita Riyan.

Sementara itu, orangtua Riyan, Linda, yang tinggal di Jalan Baung, Kelurahan Limbungan Baru, Rumbai, tidak bisa memastikan anaknya akan melanjutkan sekolah. Karena jika sekolah di swasta, ia tak sanggup membiayainya karena biaya sekolah yang cukup tinggi. Belum lagi ia membiayai anak-anaknya yang masih duduk di bangku SD dan SMP.

“Kalau ke swasta saya tak sanggup membiayai sekolahnya. Saya hanya meminta keringanan hati dari pemimpin di Riau ini, yang akan memberikan sekolah gratis kepada kami warga miskin ini. Anak saya Riyan setiap hari bertanya di sekolah mana ia sekolah. Saya hanya mengatakan, nanti akan ditolong oleh kawannya masuk ke sekolah negeri melalui Dinas Pendidikan dan Gubernur,” harapnya sambil meneteskan air mata.

Ternyata kasus Riyan, anak yatim dari Rumbai ini, juga menimpa banyak remaja lain yang ingin sekolah lewat jalur afirmasi. Namun tidak diterima di sekolah negeri di Riau ini. Kini mereka hanya menunggu janji Gubernur Riau untuk menggratiskan seluruh siswa yang miskin di Riau.

Reporter: Nurmadi

Comments

Pos terkait