Pijar Melayu Taja BERPIJAR Penerapan New Normal

  • Whatsapp
Pijar Melayu Taja BERPIJAR Penerapan New Normal.(Istimewa)

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU – Pijar Melayu taja Berdiskusi Pakai Jaringan atau BERPIJAR, Rabu (8/7) kemarin. Sejumlah pemateri hadir dalam kegiatan yang dipandu Tata Haira itu.

Adapun tema yang diusung dalam kegiatan tersebut adalah ‘Membangun kesadaran masyarakat Melayu Riau dalam penerapan new normal di tengah pandemi Covid-19 guna mewujudkan kamtibmas yang kondusif dan masyarakat semakin produktif’.

Diskusi diawali dengan sambutan Rocky Ramadani. Dikatakan Direktur Eksekutif Pijar Melayu itu, ide pelaksanaan BERPIJAR karena adanya lonjakan kasus Covid -19 yang sangat tajam, setelah PSBB selesai diterapkan.

Dalam sehari dari tanggal 22 Juni hingga 24 Juni 2020, kenaikannya rata-rata mencapai 24 orang perhari. Muncul klaster baru dari BUMN dan bahkan sudah menjalar ke Kantor Camat Bukit Raya dan pusat perbelanjaan yang ada di Kota Pekanbaru. Hingga 7 Juli 2020 sudah 236 pasien positif corona di Provinsi Riau.

“Giat Pijar Melayu BERPIJAR merupakan upaya kita mendukung kebijakan pemerintah dalam penerapan new normal dengan membangun kesadaran masyarakat Melayu Riau. Karena dari hasil investigasi yang kita temukan di lapangan, banyak masyarakat di tingkat tapak yang tidak memahami apa yang dimaksud dengan penerapan new normal. Mereka mengira dengan diterapkannya new bormal, masa pandemi Covid-19 sudah berakhir,” ujar Rocky.

Atas hal itu, Die Reskrimsus Polda Riau Pol Andri Sudarmadi yang didapuk sebagai pemateri menyampaikan, Polri telah melakukan tugas dan fungsi semenjak awal wabah Covid-19 menyerang negeri ini.

“Kami prihatin akan kenaikan kasus Covid-19 di Provinsi Riau. Kami akan terus berupaya menekan lajunya penyebaran virus ini. Salah satu, dengan menggunakan teknologi Dashboard Lancang Kuning. Dimana cara kerja aplikasi ini adalah dengan mengarahkan masyarakat yang baru datang dari luar kota, misalnya di bandara untuk mengambil barcode sehingga terdata di Dasboard Lancang Kuning,” kata Kombes Pol Andri.

Personel Polri juga turun ke lapangan. Ada juga yang melakukan patroli dengan menggunakan teknologi helm untuk memantau Covid-19.

“Helm ini sengaja didatangkan oleh Bapak Kapolda untuk membantu kita mendeteksi masyarakat di lokasi tertentu, seperti pasar tradisional ataupun tempat keramaian lainnya dan untuk mengukur suhu. Helm Ini langsung terkoneksi dengan aplikasi Dashboard Lancang Kuning,” jelas dia.

Tambahnya, upaya Polri menuju new normal dilihat dalam 3 dimensi. Yaitu, pergelaran personel pada fasilitas umum dan pusat keramaian, edukasi pemilik usaha dan industri agar tetap mengacu kepada keputusan Menkes Nomor 328 tahun 2020 sebagai upaya mendukung keberhasilan usaha di tengah pandemi.

“Intervensi yang dilakukan Polri bukan dalam rangka penegakan hukum, namun agar disiplin dalam menjaga protokol kesehatan,” pungkas dia.

Sekretaris Gugus Tugas Provinsi Riau Syahrial Abdi dalam paparannya menyampaikan, pihaknya terus berupaya untuk berkolaborasi dengan semua kalangan untuk menghadapi Covid-19.

“Kita berharap menuju new normal masyarakat dapat sadar akan pentingnya mematuhi protokol kesehatan dengan menjadi diri sendiri berarti menjaga orang lain sehingga kita bisa menekan laju penyebaran virus corona ini,” kata Asisten 3 Setdaprov Riau itu.

“Dalam menghadapi Covid-19, kita tidak bisa sendiri dan butuh bantuan seluruh pihak. Kita mengimbau agar masyarakat sadar akan bahaya Covid dan disiplin menjaga protokol kesehatan. Banyak dampak yang ditimbulkan oleh virus ini salah satunya dampak ekonomi. Pemprov Riau berkomitmen menjaga perekonomian masyarakat salah satunya ekonomi kreatif,” sambung Syahrial Abdi.

Pemateri berikutnya, Mubarak yang merupakan Rektor UMRI menyampakan, perguruan tinggi merupakan salah satu sektor pendidikan terdampak akibat Covid-19, dan hingga kini pun masih dirasakan akibatnya. Menuju new normal, perguruan tinggi langsung beradaptasi, karena sudah memulainya dari awal wabah menyerang. Semua mahasiswa, dosen dan pelayanan telah dilakukan dari rumah secara online.

“Dalam masa pandemi ini, akademisi harus berperan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat agar mampu bertransformasi secara baik dalam menghadapi Covid-19. Sebagai bentuk partisipasi UMRI dalam menyuskseskan new normal, dalam paket KKN akan memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait new normal,” beber Mubarak.

Sementara itu, pembicara terakhir Ketua Umum Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau Chaidir menanggapi serius hasil investigasi Pijar Melayu tentang banyak masyarakat yang tidak memahami apa yang dimaksud dengan new normal.

Menurut dia, hal itu sangat berbahaya sekali karena masyarakat waktu pelaksanaan PSBB saja terkesan abai dengan protokol kesehatan apalagi saat penerapan new normal.

“Pemerintah Provinsi Riau mesti mengajak duduk bersama seluruh kalangan baik pemuka masyarakat, pemuka agama, pemuka adat, perguruan tinggi dan seluruh simpul civil society untuk mencari solusi terbaik dalam percepatan penanganan Covid-19,” tandasnya.(rls)

Editor : Dodi Ferdian

Comments

Pos terkait