Perawat Dianiaya Usai Mengurus Jenazah Corona

Ilustrasi Penganiayaan. ©2016 Merdeka.com

HALUANRIAU.CO – Polisi tengah memeriksa tiga orang saksi terkait penganiayaan terhadap perawat yang bertugas mengurus jenazah pasien Covid-19 yang terinfeksi virus corona. Ketiga saksi diperiksa Personel Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polisi Resort (Polres) Kota Ambon dan Pulau-pulau Lease.

Sementara, perawat yang dianiaya adalah Jomima Orno, yang mengurus jasad pasien Covid-19 yang meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haulussy, Ambon, Maluku. Kasat Reskrim Polres Kota Ambon, AKP Gilang Prasetya mengatakan, Jomima Orno membuat laporan polisi terkait tindakan penganiayaan pada Jumat (26/6) sekitar pukul 13.00 WIT.

Bacaan Lainnya

“Ia ada laporan kita terima kemarin Jumat siang terkait tindakan penganiayaan,” kata Gilang saat dilansir dari CNN Indonesia.com, Sabtu (27/6) malam.

Dia mengatakan, Jomima Orno diduga dianiaya oleh tiga anggota keluarga Hasan Keiya. Hasan adalah pasien yang meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah  (RSUD) Haulussy, Ambon. Selain Jomima Orno, kata dia, pihaknya juga sementara memeriksa tiga orang saksi dalam kasus penganiayaan tersebut pada pukul 21.00 WIT.

Dia menyebut pada Sabtu pagi (27/6), pihaknya tengah berkoordinasi dengan rumah sakit Bhayangkara terkait hasil visum Jomina Orno. Setelah hasil visum diterima anggota Satreskrim terdapat luka-luka di beberapa bagian tubuh korban. “Ada luka-luka namun luka dibagian mana nanti saya tanya dulu, pastinya hasil visum terjadi penganiayaan,” tuturnya.

Rencana gelar perkara untuk kasus penganiayaan perawat dan kasus jemput paksa jenazah corona bakal dilakukan pada minggu pekan depan setelah semua rangkaian kasus rampung pada Sabtu malam ini. “Jadi malam ini, Sabtu (27/6) kita tuntaskan semua perkara baik untuk kasus penganiayaan maupun terhadap delapan orang tersangka jemput paksa jenazah corona dari ambulans di tengah jalan Jenderal Sudirman, Desa Batu Merah pada Jumat (26/6) sore,” imbuhnya.

Sebelumnya, Jomina Orno perawat yang bertugas sebagai pengurus jenazah Hasan Keiya yang dinyatakan meninggal di RSUD Haulussy Ambon, Maluku pada Jumat (26/6). Jomina Orno diduga dianiaya tiga orang anggota keluarga Hasan, setelah menolak permintaan keluarga. Keluarga meminta agar Hasan dimakamkan tanpa protokol kesehatan di taman pemakaman khusus corona di Desa Hunut, Teluk Ambon, Maluku.

Keluarga menyatakan Hasan Keiya meninggal bukan akibat Covid-19. Sehingga, mereka bersikeras jenazah harus dibawa pulang keluarga ke rumah duka di kawasan Galunggung Desa Batu Merah, Kota Ambon, Maluku. Namun rumah sakit tetap akan mengubur Hasan Keiya menggunakan protokol kesehatan di taman pemakaman khusus corona di Hunut.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Maykel Ponto menyesalkan tindakan penganiayaan terhadap perawat yang tengah menjalankan tugas negara. “Saya rasa wajar kalau melayangkan laporan polisi, karena negara kita adalah negara hukum, tidak boleh main hakim sendiri,” kata Ponto melalui pesan resmi, Sabtu (26/6) malam.

“Biarkan hukum yang menetapkan salah dan benarnya,”tambahnya.

Pada Jumat (26/6) sore Ponto membenarkan bahwa Hasan Keiya terinfeksi positif corona setelah dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haulussy Ambon. “Ia benar yang bersangkutan positif corona dan harus dimakamkan dengan protokol kesehatan,” tutupnya. (*)

Sumber: CNN Indonesia

Comments

Pos terkait