Duh, Air PDAM Tak Layak Dikonsumsi Gegara Limbah Sawit Cemari Sungai Tapung

  • Whatsapp
Teks foto: WAKIL Ketua DPRD Kampar Repol S.Ag saat meninjau Pengolahan air minum milik PDAM Tirta Kampar di Desa Kasikan.

HALUANRIAU.CO, KAMPAR – Persoalan limbah perusahaan kembali menjadi biang kerok di Kabupaten Kampar. Tercemarnya sungai Tapung berdampak terhadap 1.400 pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Desa Kasikan, Kecamatan Tapung Hulu, karena kualitas air sungai Tapung yang yang tak layak diolah.

Informasi itu terkuak saat Wakil Ketua DPRD Kampar Repol  menerima laporan masyarkat dan langsung meninjau lokasi PDAM, menurut Operator PDAM unit pengolahan Kasikan Solihin sudah 2 hari PDAM unit Kasikan tidak menyuplai air ke warga karena kualitas air yang tercemar limbah tidak layak konsumsi.

Bacaan Lainnya

“Sudah dua hari tidak beroperasi, tidak ada pengolahan air, kondisi ini sangat merugikan masyarakat,” ungkap Solihin, Ahad (31/5/2020).

Sementara itu, salah seorang nelayan asal Kasikan Bustami mengungkapkan bahwa semenjak Ramadhan sudah 2 kali air sungai Tapung kotor, ia menduga kondisi tersebut akibat ulah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) didaerah tersebut yang membuang limbah ke sungai.

Wakil Ketua DPRD Kampar Repol S Ag sangat menyayangkan jika ada perusahaan yang membuang limbah ke Sungai Tapung, apalagi air  sungai menjadi salah satu sumber air minum warga serta sebagai mata pencaharian bagi nelayan tempatan.

“Saya ditelpon tadi malam,  oleh masyarakat  Kasikan, kata warga kemarin air sungai ini menghitam diduga karena aktivitas pembuangan limbah salah satu perusahaan, kalau itu benar adanya kita sangat sayangkan masih adanya  perusahaan yang beraktifitas di Kabupaten Kampar yang  menggunakan cara-cara curang. Kita tunggu hasil uji leb dari DLH untuk kepastiannya,” terang Repol.

Sementara itu, Manager PDAM Tirta Kampar Rusdy mengakui adanya gangguan pengolahan air minum di unit PDAM Kasikan karena terpapar limbah.

“Iya sudah dua setengah harilah terganggu, tapi minggu (31/5) sudah beroperasi tapi kota kurangi debit airnya. Sempat terganggu karena limbah, belum bisa dipastikan limbah perusahaan apa karena ada tiga PKS di situ,” terang Rusdi, Senin (1/5) sore.

Reporter: Amrizal

Comments

Pos terkait