Bak Sayur Tanpa Garam, Iven Parahu Baganduang Tahun 2020 Ditiadakan

  • Whatsapp
Atraksi Budaya Parahu Baganduang Tahun 2018 (Istimewa)

HALUANRIAU.CO, TELUK KUANTAN-Iven tradisional yang kerap diselenggarakan setiap tahun di Kecamatan Kuantan Mudik, untuk tahun ini sudah dipastikan ditiadakan.

Iven yang lazim di sebut Parahu Baganduang itu merupakan salah satu atraksi budaya di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) yang ditunggu-tunggu oleh para perantauan yang pulang kampung.

Lazim nya, atraksi arak-arakan parahu (perahu, red) berlangsung di pertama lebaran atau di hari ketiga lebaran idul fitri. Sejumlah parahu disusun bergandeng, dibingkai sedemikian rupa yang suka cita, serta dihiasi dengan berbagai ornamen.

Namun, kemolekan Perahu Baganduang tidak bisa dinikmati untuk tahun ini, sebab ditengah wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dilarang untuk mengumpulkan orang banyak atau berkerumun.

Tokoh Masyarakat Kuantan Mudik Pebri Mahmud membenarkan alasan ditiadakan nya iven tersebut. Juga mengindahkan himbauan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuansing terkait penyebaran covid-19.

“Iya, untuk tahun ini sudah dipastikan tidak kita laksanakan iven ini. Sebab kita menghindari kerumunan sesuai intruksi dari pemerintah kita (Pemkab Kuansing, red),” kata Pebri, Sabtu (23/5).

Meskipun begitu, sebut Pebri, tidak mengurangi kenikmatan saat menjalani lebaran idul fitri 1441 H. Sebab, alasan ditiadakan nya sangat lah fatal jika dilaksanakan.

“InsyaAllah, jika wabah ini cepat berlalu untuk tahun depan akan selenggarakan dengan semeriah mungkin,” tukas pria yang juga selaku Ketua DPH LAM Kuansing itu.

Hal senada pun diutarakan oleh Ketua Umum Parahu Baganduang Tahun 2018/2019 Raja Muhammad Deprian yang mengatakan anggaran pelaksanaan atraksi budaya itu telah dialihkan ke penanganan covid-19.

“Walaupun anggaran sudah dialihkan, bisa saja kami selenggarakan iven parahu baganduang ini. Karena untuk pembiayaan menjemput limau (salah satu rangkaian atraksi, red) biasanya dananya dari sumbangan para donatur, pemuda atau masyarakat setempat, baik itu mengatasnamakan suku, kelompok, surau, dusun,” jawab Buyuang sapaan akrab pria itu.

Namun, mereka tidak mau ambil resiko sebab mereka tahu bagaimana bahaya dari Ciovid 19. “Mencegah lebih baik dari pada mengobati, dan kami pun ingin membantu pemerintah untuk memutus mata rantai penyebarab covid 19,” tegas nya.

Tidak ada nya iven tersebut tahun ini, jelas Buyuang, Idul Fitri 1441 H bagaikan sayur tanpa garam sebab iven ini momen yang ditunggu masyarakat setempat.

“Aghi gahyo tak ado paghau baganduang ghaso sayu tak bagaghom (hari raya tak ada parahu baganduang, rasa sayur tanpa garam),” tukasnya.

Meskipun begitu, di mengajak masayarakat tetap besyukur, lantaran Kota Jalur saat ini masih berada di zona hijau.

 

 

Reporter: Akmal

Comments

Pos terkait