Ramadhan Bulan Perjuangan Natsir untuk Pendidikan Islam

  • Whatsapp

HALUANRIAU.CO,OPINI- Kiprah Natsir dalam dunia pendidikan Islam tidaklah kecil. Sebelum menikah dengan Puti Nur Nahar (20 Oktober 1934), dua tahun sebelumnya beliau sudah mendirikan Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung dengan segala keterbatasan sarana tapi memiliki keagungan cita-cita.

Suka duka selama merintis sekolah ini bukan main beratnya. Utamanya dalam masalah ekonomi. Al-hamdulallah ada sosok semacam Haji Mahmud Yunus, saudagar kaya yang punya kepedulian dalam dunia pendidikan. Sering sekali beliau membantu sisi finansial dari Pendis ini.

Apa yang dilakukan Natsir dalam mendirikan sekolah Islam ini sama sekali bukan mencari untung. Ini dilatari oleh cita-cita agung agar umat Islam, khususnya para generasi penerus yang sekolah di sekolah Barat yang notabene banyak beragama Islam bisa mendapatkan pendidikan Islam yang layak.

Untuk memperjuangkan Pendidikan Islam ini, banyak pengorbanan yang dilakukan oleh Natsir dan istrinya. Setiap kali ada problem ekonomi, tak jarang gelang emas istrinya yang sudah dimiliki sejak menikah digadaikan untuk memenuhi kebutuhan oprasional Pendidikan Islam. Namun semuanya, karena dasarnya adalah keikhlasan, semua bisa dijalani dengan hati riang.

Ketika bulan puasa masuk, saat itu yang dilakukan Natsir adalah keliling ke wilayah Jawa Barat bahkan hingga Jawa Timur ke tempat orang-orang kaya yang dikenalnya atau diketahui alamatnya. Tujuannya adalah agar zakat mereka bisa tersalurkan ke yang berhak menerimanya, seperti lembaga pendidikan Islam yang berhak menerimanya (fi sabilillah).

Dalam pengumpulan zakat ini, ada suka dukanya. Ketika yang didatangi adalah orang yang mengerti, sebagaimana Tuan Abdullah Afif dari Cirebon. Ketika didatangi, Natsir disambut dengan sangat baik dan beliapun juga menitipkan zakatnya untuk kepentingan pendidikan Islam. Bahkan, pada tahun berikutnya, tak perlu didatangi sudah mengirimkan zakatnya untuk kepentingan pendidikan Islam.

Namun, tak semua yang didatangi Natsir bisa menerimanya dengan dada lapang. Adapula orang-orang kaya yang bebal dan sombong yang memperlakukan Natsir seolah sebagai orang yang sedang meminta. Kalau sudah seperti ini, dengan tetap menjaga kesantunan tapi tegas, Natsir memberikan penjelasan.

“Saya datang berkunjung,” kata Natsir kepada salah seorang kaya yang memperlakukannya bak peminta-minta, “bukan untuk meminta belas kasihan. Saya tahu dalam harta tuan itu ada terselip hak masyarakat. Saya tahu tuan saat ini harus menunaikan kewajiban tuan sebagai muslim untuk “membersihkan” atau “menzakahkan” harta tuan dari hak masyarakat itu.”

Lanjut Natsir, “Saya datang bantu tuan dalam hal ini, agar “zakat” yang tuan akan keluarkan itu sampai kepada pihak yang berhak menerimanya. “Pendidikan Islam” sebagai badan perjuangan umat Islam dalam lapangan pendidikan adalah salah satu dari pihak yang berhak menerimanya. Saya datang sebagai orang perantara antara tuan yang akan menunaikan wajib zakat dengan pihak yang berhak atasnya.”

“Itupun,” sambung Natsir, “kalau tuan ridla. Kalau tidak, saya tidak berkecil hati. Sebab saya hanya sekedar melakukan kewajiban saya pula.” Demikianlah gaya Natsir. Meski kalem, lemah lembut, tapi tidak kehilangan izzah dan ketegasannya. Kalau sudah seperti ini, mereka orang kaya yang memperlakukan dengan rendah Natsir, akhirnya tersadar dan membayar zakatnya.

Setelah berjuang susah payah dalam bulan puasa untuk mengumpulkan zakat dari orang-orang yang mampu, akhirnya dengan dana yang sebesar beberapa ratus rupiah itu akhirnya bisa memenuhi kebutuhan oprasional pendidikan Islam yang didirikannya. Di antaranya adalah untuk membayar sewa gedung yang selama ini sering ditalangi oleh Haji Muhammad Yunus. Para guru pun bisa menghadapi hari raya dengan lega.

Demikian juga, gelang emas istri yang sudah lama tergadai untuk biaya Pendidikan Islam akhirnya bisa ditebus. Namun, tidak lama setelah itu juga tergadai lagi karena untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Islam. Kisah ini ditulis dengan sangat apik oleh Ajip Rosidi dalam buku “M. Natsir Sebuah Biografi” (1990: 180-183).

Dalam Islam perhatian terhadap ilmu dan para pencari ilmu merupakan amal yang mulia. Di antara hadits yang menunjukkan kemuliaan pencari ilmu adalah: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.” (HR. Muslim).

Bahkan kata Nabi, belajar dan mengajarkan al-Qur`an (sebagai sumber pertama pendidikan Islam) adalah profesi yang sangat mulia:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud).

Perjuangan Natsir keliling ke berbagai daerah dalam mengumpulkan dana zakat untuk kepentingan pendidikan Islam pada bulan Ramadhan menggambarkan kepada kita tentang kepedulian tinggi beliau terhadap keberlangsungan dunia pendidikan Islam. Dengan sarana dan prasana yang serba terbatas kala itu, tidak membuat beliau berkecil hati. Beliau berjuang keras bagaimanapun caranya –asal tiak menyalahi syariat—agar pendidikan Islam bisa berjalan.

Saat ini kita melihat banyak sekali bahkan menjamur pendidikan Islam di sana-sini. Namun, di zaman Natsir muda, hal itu sangatlah langka. Tidak banyak yang memiliki perhatian ke ranah ini. Apalagi, pendidikan Islam kala itu tidak begitu dilirik. Yang dilirik adalah lembaga pendidikan umum kolonial yang menjanjikan pekerjaan dan masa depan ekonomi yang lebih cerah.

Di situlah tantangannya, dan Natsir pun –dengan segenap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki– tak pernah jemu memperjuangan pendidikan Islam dan Islamnya sampai akhir hayat. Semoga, perjuangan beliau menjadi teladan bagi generasi pendidik berikutnya.*

Sumber: Hidayatullah.com

Comments

Pos terkait