Dashboard Lancang Kuning Nusantara : Karya Kapolda Riau untuk Bangsa

  • Whatsapp
Dosen Tetap Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Riau, Dr Aidil Haris SSos MSi.(Internet)

“Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan kesempatan untuk berhasil”. (Buya Hamka)

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU – Apa yang dikatakan Buya Hamka beberapa puluh tahun silam itu, berhasil diimplementasikan Kapolda Riau Irjen. Pol Agung Setya Imam Effendi. Pengalamannya di Kepolisian tidak menjadikannya statis untuk berinovasi pada aspek lain yang terkait.

Beliau mampu untuk mencoba, menemukan dan berhasil diterapkan. Keberhasilan tersebut bukan untuknya tapi untuk masyarakat.

Inovasi hasil mencoba, dan berhasil diimplementasikan itu bernama Dashboard Lancang Kuning Nusantara, sebuah perangkat teknologi pendeteksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya pemerintah untuk mengetahui sejak awal adanya karhutla sudah bisa diidentifikasi oleh sebuah sistem aplikasi tersebut.

Produk inovasi karya Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi ini menjadi sebuah teknologi yang mampu memberikan terobosan untuk mengantisipasi terjadinya karhutla di Riau, dan beberapa provinsi lainnya di Indonesia.

Wajar, jika Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap mantan Deputi Siber pada Badan Intelijen Negara (BIN) itu. Bahkan Kapolri menjanjikan kepada Irjen Pol Agung untuk posisi strategis di Mabes Polri.

Bagaimana cara kerja perangkat teknologi yang dirancang Pak Agung?

Seperti yang diberitakan beberapa media massa menyebutkan bahwa aplikasi ini mampu mendeteksi titik panas indikasi kebakaran lahan, personel ataupun relawan yang dekat dengan lokasi. Dashboard ini sudah mencatat nomor telepon personel yang dekat dengan titik api sehingga mudah menghubunginya.

Selain itu, dashboard ini juga bisa melihat siapa pemilik lahan yang terbakar, baik itu perorangan ataupun perusahaan. Begitu titik api muncul, posko pengendali langsung merespon dan memobilisasi relawan terdekat.

Langkah strategis yang dilakukan Kapolda Riau ini perlu diacungi jempol.

Secara riil, dampak kebakaran hutan selama ini, bukan saja memperburuk kondisi udara di Riau, bahkan juga memperburuk situasi perekonomian.

Berdasarkan publikasi World Bank dengan judul Indonesia Economic Quarterly Reports (IEQ) menyebutkan, kerugian Indonesia akibat dampak kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2019 mencapai US$5,2 miliar atau setara Rp72,95 triliun (kurs Rp 14.000).

Penghitungan kerugian ekonomi oleh Bank Dunia ini berdasarkan kebakaran hutan massif terjadi di delapan provinsi prioritas, yakni, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Jambi, Kalimantan Timur dan Papua. Laporan Bank Dunia ini memperkirakan terjadi penurunan 0,09 persen, dan 0,05 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masing-masing tahun 2019 dan 2020 dampak kebakaran hutan.

Kebakaran hutan dan kabut asap secara berulang meningkatkan persepsi global terhadap produk minyak sawit asal Indonesia.

Dampak lainnya adalah rusaknya hubungan internasional Indonesia dengan beberapa negara tetangga yang mengakibatkan komunikasi internasional terganggu. Yang lebih parahnya lagi adalah aktifitas sekolah harus dihentikan akibat tebalnya kabut asap yang menyebabkan ketertinggalan pelajaran di kalangan guru dan siswa. Masih banyak lagi persoalan-persoalan yang muncul akibat kabut asap yang terjadi saban tahun.

Oleh karena itu, masyarakat Riau tentu sangat mengapresiasi keberadaan Dashboard Lancang Kuning Nusantara sebagai perangkat yang dapat membantu pendeteksian kebakaran hutan sejak dini.

Dengan adanya dashboard ini, setidaknya dapat membantu mengidentifikasi titik api dan bahkan pelaku pembakaran hutan dan lahan di Riau dan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia. Dengan sikap optimistis, tahun 2020 ini merupakan tahun terbebaskannya rakyat Riau dari kepungan asap karhutla.

 

Oleh: Dr Aidil Haris SSos MSi

Penulis adalah Dosen Tetap Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI)

Comments

Pos terkait