Penambangan Pasir di Desa Karya Indah, Kecamatan Tapung, Kampar Diduga Ilegal

  • Whatsapp
Satu unit eskavator melakukan pengerukan pasir di sebuah lokasi di Desa Karya Indah, Kacamatan Tapung, Kampar.(Dodi Ferdian)

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU-Kegiatan penggalian pasir di Km 6 Jalan Garuda Sakti, Desa Karya Indah, Kecamatan Tapung, Kampar, diduga berlangsung secara ilegal. Kegiatan ini diyakini telah berlangsung sejak lama.

Haluan Riau (Haluan Media Group) dan sejumlah awak media berkesempatan mendatangi lokasi dimaksud pada Senin (30/3) kemarin. Untuk mencapai lokasi tersebut, bisa melalui akses jalan yang melintasi Pondok Pesantren Mamba’un Quran di desa tersebut.

Sementara di sana, terdapat beberapa orang pria, yang belakangan diketahui bertugas mencatat jumlah truk pembawa pasir yang melintas di jalan tersebut.

Sesampai di lokasi, terlihat 1 unit alat berat jenis ekskavator yang memuat pasir ke dalam 5 unit truk. Sementara kondisi di sana, tanah seluas lebih kurang 1,5 hektare itu sudah tergali dengan kedalaman hingga 3 meter.

Melihat kedatangan wartawan, satu persatu truk itu meninggalkan lokasi, meskipun belum terisi penuh. Di sana hanya menyisakan dua orang laki-laki.

Kepada mereka, awak media mencoba menggali informasi terkait aktifitas penambangan pasir tersebut. Salah seorang pria yang mengaku bernama Marpaung mengatakan, dirinya baru kali itu bekerja di sana.

“Yang punya alat (berat) namanya Pak Regar. Dia mekanik,” kata dia.

Dia menyebut, para pekerja disuruh oleh pria yang yang bernama Sihombing. Tidak jelas, apa nama depan di belakang marga Sihombing tersebut.

“Dia (Sihombing,red) pengelola ini (penambangan pasir,red) lanjut dia.

Saat ditanyakan terkait perizinan penambangan tersebut, Marpaung mengaku tidak mengetahuinya. Lagi-lagi, baru bekerja di sana, menjadi alasannya tidak mengetahui hal tersebut.

“Kalau izin, saya tidak tahu,” tegas dia.

Masih dari keterangannya, aktifitas muat pasir pada hari tersebut terbilang sepi. Dari keterangan yang ia dapat dari pekerja sebelumnya, biasanya di sana bisa memuat hingga 40 truk setiap harinya.

“Hari ini agak sepi. Sekitar 20-an truk lah. Satu truknya seharga Rp230 ribu,” imbuh dia.

Sayangnya, terkait nama-nama yang disebutkan Marpaung itu, seperti Regar, dan Sihombing, tidak dijumpai di lokasi tersebut.

Dari penelusuran yang dilakukan, kegiatan yang disinyalir ilegal itu, bermula dari sengketa lahan. Salah satu pihak, diduga telah menggunakan surat tanah palsu di lokasi tersebut.

Terkait hal itu, telah dilaporkan ke Polda Riau. Kendati begitu, di sana tidak terpasang Policeline yang menandakan bahwa lahan tersebut dalam status quo.

Adapun laporan tersebut seperti yang disampaikan warga atas nama Umar Suro. Warga Pekanbaru itu melaporkan dua orang masing-masing berinisial T dan BR atas dugaan menggunakan surat palsu sebagaimana diatur dalam Pasal 263 KUHPidana. Laporan itu tertuang dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor : STPL/524/XI/2019/SPKT/Riau tertanggal 18 November 2019 lalu.

Dikonfirmasi hal ini, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto mengatakan, laporan tersebut masih dalam penyelidikan pihaknya. Penyelidik kata dia, masih menjumpai sejumlah kendala dalam pengusutan perkara itu.

“Status masil lidik (penyelidikan,red). Saksi kunci yang disebut pelapor, hingga saat ini belum memenuhi panggilan,” singkat mantan Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) itu.

Penulis : Dodi Ferdian

Comments

Pos terkait