Pemodal Diburu, Tiga Pelaku Illegal Loging Diamankan

  • Whatsapp

HALUANRIAU.CO, PEKANBBARU-Tiga orang diamankan karena diduga terlibat pembalakan liar di Kepulauan Meranti. Sementara itu, toke atau pemodal para pelaku masih diburu petugas.

Adapun pelaku yang telah diamankan itu adalah Irwandi, Slamet dan Haidir. Sementara barang bukti yang disita adalah satu unit kapal yang berisi 20 ton kayu ilegal.

“Kayu hasil pembalakan liar dari hutan di Meranti,” ujar Direktur Polisi Air (Dirpolair) Polda Riau, Kombes Pol Badarudin, Selasa (25/2).

Badarudin yang saat itu didampingi Kasubdit Gakkum Ditpolair Polda Riau, AKBP Wawan Setiawan, menjelaskan kronologi pengungkapan. Dikatakan dia, ketiga pelaku ditangkap pada Kamis (20/2) sekitar pukul 22.30 WIB.

“Pengungkapan itu dilakukan berdasarkan informasi masyarakat yang menyebutkan ada praktik ilegal logging di Sungai Dedap, Tasik Putri Puyuh,” kata Badarudin.

Mendapat informasi itu, tim patroli langsung melakukan penyisiran dengan menggunakan kapal 4201. “Tim mengintai ke wilayah Sungai Dedap, menunggu kapal keluar bawa kayu,” lanjut dia.

Badarudin menyebutkan tim sengaja menunggu di pinggir sungai karena lokasi sangat sulit. Tim sudah berada di lokasi sejak pukul 20.30 WIB, sampai akhirnya kapal pompong pengangkut kayu melintas.

Pompong yang dinakhodai Slamet itu membawa rakit berisi kayu. “Setelah diperiksa, jumlah kayu yang dibawa sebanyak 30 meter kubik atau 20 ton. Kayu akan dibawa ke Bengkalis,” bebernya.

Berdasarkan pengakuan tersangka Slamet, kapal pompong miliknya disewa oleh Irwandi untuk mengangkut kayu. Untuk membantu mengambil kayu, Slamet meminta bantuan Haidir.

“Pompong itu milik Slamet. Biasanya memang disewakan untuk bawa barang. Kali ini diorder untuk bawa kayu,” lanjut dia lagi.

Sementara, Slamet mengaku baru satu kali mendapat sewa membawa kayu dan dia mendapat upah Rp800 ribu. Namun uangnya belum terima.

“Menurut pengakuan pelaku Slamet, uang didapat setelah barang sampai,” ungkap dia.

Menurut Slamet, kayu berbagai jenis itu diambil dari kawasan hutan dekat Sungai Dedap. Polisi masih mengembangkan kasus untuk mengetahui toke pembalakan liar itu.

“Nanti akan kita kembangkan, siapa pemilik kayu ini,” imbuh Badarudin.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 83 ayat (1) huruf b Undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dan Asal 12 huruf e UU Nomor 18 Tahun 2013.

“Ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp2,5 miliar,” pungkas Kombes Pol Badarudin.

 

 

 

Penulis: Dodi Ferdian

Comments

Pos terkait