Rekanan Tahanan Kota Meski Dinyatakan Bersalah, Eks Kabag Kesra 2 Tahun

  • Whatsapp

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU-Kendati dinyatakan bersalah, namun Mulheri tidak dilakukan penahanan badan. Terdakwa kasus dugaan korupsi dana kegiatan makan dan minum serta pemondokan Musabaqah Tiawati Quran (MTQ) tingkat Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) hanya menjadi tahanan kota.

Demikian terungkap di persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Selasa (18/2). Adapun agenda persidangan adalah pembacaan amar putusan yang disampaikan majelis hakim yang diketuai Dahlia Panjaitan.

Mulanya, amar putusan dibacakan untuk Mulheri yang tak lain adalah Direktur CV Listra selaku rekanan dalam kegiatan tersebut. Menurut hakim, Mulheri dinyatakan bersalah dalam perkara tersebut.

“Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Mulheri selama 1 tahun dan 6 bulan, dan denda sebesar Rp50 juta subsider 3 bulan penjara,” ujar Hakim Ketua Dahlia Panjaitan.

Kendati begitu, majelis hakim tidak memerintahkan Mulheri untuk berada di dalam sel tahanan, melainkan hanya menjadi tahanan kota. Adanya pengembalian kerugian negara sebesar Rp65 juta, menjadi salah satu pertimbangan hakim menetapkan status penahanan Mulheri.

“Terdakwa telah menitipkan uang kepada pihak kejaksaan (Kejari Inhu,red) yang dianggap sebagai uang pengganti kerugian negara. Terdakwa tetap dalam tahanan kota,” lanjut Dahlia.

Berbeda dengan Mulheri, dua terdakwa lainnya harus tetap meringkuk di dalam jeruji besi. Dua pesakitan itu adalah Amat Jalil dan Subandi, masing-masing merupakan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam kegiatan yang dilaksanakan pada tahun 2017 lalu itu. Keduanya sudah menghuni sel tahanan sebelum perkara bergulir di pengadilan.

Oleh hakim, Amat Jalil dijatuhi hukuman penjara selama 2 tahun, sementara Subandi dihukum 1 tahun penjara. Keduanya juga dibebankan membayar denda masing-masing Rp50 juta subsider 3 bulan penjara.

Sementara untuk uang pengganti kerugian negara, Amat Jalil diwajibkan membayar sebesar Rp155 juta. Sementara Subandi, diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp35 juta. Terkait uang pengganti itu, juga telah dititipkan para terdakwa ke pihak kejaksaan.

“Terdakwa Amat Jalil dan Subandi tetap dalam Rutan (rumah tahanan),” tegas Hakim Ketua Dahlia Panjaitan.

Menanggapi putusan tersebut, ketiga terdakwa menyatakan pikir-pikir selama 7 hari ke depan, apakah menerima atau menyatakan banding. Hal yang sama juga disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sebelumnya, JPU menuntut ketiga terdakwa dengan hukuman masing-masing 1,5 tahun penjara, dan denda Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan.

Tdak itu saja, JPU juga menghendaki para terdakwa dihukum untuk membayar uang pengganti kerugian negara yang besarannya berbeda-beda. Amat Jalil dibebankan membayar Rp186.709.096, dan Subandi sebesar Rp35 juta, serta Mulheri sebesar Rp68.857.6000.

Para terdakwa diduga melakukan korupsi dengan melakukan mark up dana konsumsi makanan dan minuman untuk peserta MTQ, qori dan qoriah. Hasil penyidikan ketahui kerugian negara mencapai angka Rp313 juta.

Uang yang dikorupsi merupakan kegiatan MTQ tingkat Kabupaten Inhu. Di mana persertanya adalah qori dan qoriah semua kecamatan di Inhu. Selain itu ada juga biaya pemondokan yang juga diduga diselewengkan sebesar Rp100 juta.

 

 

Penulis: Dodi Ferdian

Comments

Pos terkait