Sepenggal Kisah Kakek Pembakar Lahan, Divonis Bebas tapi Masih Cemas

  • Whatsapp
Kakek Syafruddin

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU- Meski sudah terlepas dari dakwaan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Pekanbaru atas kasus pembakaran lahan dengan tuntutan 4 tahun penjara.

Namun, kakek Syafruddin mengakui masih trauma untuk kembali bekerja sebagai seorang petani, Senin (10/1).

Ketika dijumpai, raut wajah kakek tua itu menggambarkan rasa cemas, karena dirinya mendapat kabar bahwa pihak JPU akan melayangkan kasasi. Tentu ini sebuah kecemasan yang menganggu pikirannya.

Dia tidak ingin lagi masuk bui, sebab sudah selama 5 bulan dirinya mendekap dalam sel tahanan Sialang Bungkuk. Sensasi tidak menyenangkan yang ia rasakan selama mendekam dalam kamar ukuran kecil itu.

Ia menceritakan peristiwa yang dialaminya itu, berawal dari pembakaran lahan kebun yang berada tak jauh dari rumahnya itu, tepatnya bersebelahan dengan arah masuk tol. Di sana, terlihat hanya ada tumbuhan pohon pisang yang diperkirakan seluas 20 meter kali 29 meter.

“Saya membakar itu pada 16 Maret 2019, kondisi anah itu dalam keadaan basah. Lalu mati sendiri selama dua jam,” Kata pria asal Sumatera Barat itu.

Dirinya terkejut, lantaran diseret Bhabinkamtibmas untuk dimintai keterangan yang diduga telah melakukan pembakaran lahan yang digarapnya itu.

“Tahu saya dibawa ke Polsek Rumbai, warga kampung pun berbondong-bondong datang. Lalu, dilarikan ke Polresta Pekanbaru, di sana saya ditahan selama enam hari,” jelas kakek syafrudin itu.

Lantaran banyak tuntutan dari warga, akhirnya dirinya dibebaskan dari sel tahanan, dengan syarat menjadi wajib lapor dua kali dalam satu minggu selama tiga bulan berturut-turut.

Tepat pada 2 Oktober 2019, menjadi hari terakhir bagi dirinya untuk menjadi wajib lapor. Lantaran pada hari itu, dia jebloskan kedalam sel tahanan. Tanpa banyak bertanya, ia menuruti perintah dari pihak Kepolisian dan juga pihak Kejaksaan.

Setibanya di Sialang Bungkuk, ia harus masuk ke ruang transit yang diisi sebanyak 60 orang. Di situ, dia mendekat selama seminggu berbaur dengan tahanan lain dengan latar belakang kasus yang berbeda.

“Habis itu, saya dipindahkan ke kamar C19, isinya 22 orang. Pindah ke kamar pun lumayan ngeri juga. Kalau bergeser sedikit dengan kulit teman serasa kaya kulit api, panas,” kata pria Chaniago itu sambil menggeleng tanda dia tak menginginkan lagi.

“Kalau soal makan, semua kesulitan. Nasi putih dan goreng ikan asin satu biji. Sehari tiga kali. Tak pakai cabe. Empat hari sekali pakai telur,” sambungnya.

Untuk bisa keluar kamar, sebutnya, hanya di pagi Minggu dan tanggal merah serta di hari Senin pukul 08.15 WIB. Bagi yang tidak salat, pukul 09.30 WIB masuk ke ruangan.

“Saya kalau ke luar, pergi sholat dan ngaji-ngaji. Bareng dengan ketua kami yang kasus curanmor. Dipanggil pak Udang. Sementara untuk hari lainnya salat di dalam kamar masing-masing. Jika waktunya tiba, bagi yang salat ya menjalankan salat. Kalau pas Subuh yang belum bangun harus bergeser. Jamaah,” jawab seingat dia.

Hingga kini, kakek tua itu belum bisa bernafas lega dan leluasa untuk beraktifitas seperti biasanya.

“Saya belum tenang betul, masih risau. Karena katanya jaksa mau ajukan banding. Jadi status saya juga bingung. Ntah masuk lagi, ntah apalah. Tak mau saya dipenjara lagi,” sebut bapak anak enam itu.

Reporter: Akmal
Comments

Pos terkait