Ada Dugaan Korupsi Perjalanan Dinas di Kementrian PUPR, Kasatker di BWSS III Riau Diklarifikasi Jaksa

  • Whatsapp
Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau Hilman Azazi

HALAUANRIAU.CO, PEKANBARU- Yannedi kembali berurusan dengan pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau. Sebelumnya, Kepala Satuan Kerja (Kasatker), Danau Situ dan Embung di Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) III Riau itu diklarifikasi Jaksa terkait pembangunan embung di Tenayan Raya Pekanbaru, kali dia dimintai keterangan dalam perkara yang lain.

Yannedi mendatangi Kantor Kejati Riau pada Senin (10/2). Dari informasi yang dihimpun, dia datang sekitar pukul 09.00 WIB.

Pria yang mengenakan kemeja warna putih itu langsung menuju ruang Pidana Khusus (Pidsus) yang ada di lantai 5 bangunan utama Kejati Riau.
Sekitar pukul 15.30 WIB, dia tampak keluar dari lift yang membawanya menuju lobi Kejati. Dia kelihatan terkejut tatkala melihat awak media sudah berada di sana.

Saat ditanyakan tujuan kedatangannya ke kantor yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman itu, Yannedi keliatan bingung. Termasuk saat awak media menanyakan terkait perkara yang membuatnya kembali mendatangi kantor Korps Adhyaksa Riau itu.

“Ndak belum. Nanti sama bapak saja,” jawab dia. Tidak diketahui, bapak mana yang dimaksud Yannedi tersebut.

Saat ditanya jam berapa dia datang ke kantor Kejati, ia memberikan jawaban yang tak masuk akal. “Jam 4 (sore, red),” singkat dia sambil kembali memasuki lift. Dia pun urung keluar dari kantor Kejati Riau.

Kedatangan Yannedi itu diyakini terkait perkara yang tengah diusut Kejati Riau. Yakni, penyelidikan dugaan korupsi perjalanan dinas dan pertanggung jawaban akomodasi di Kementerian PUPR melalui SNVT di lingkungan BWSS III tahun anggaran 2016 hingga 2018.

Dikonfirmasi, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau Hilman Azazi tidak menampik hal tersebut. “Siap,” jawab Hilman membenarkan adanya pengusutan perkara itu.

Pengusutan perkara itu diyakini telah dimulai sejak pekan kemarin. Beberapa orang dari pihak terkait telah menghadap tim penyelidik untuk dimintai keterangannya.

Termasuk pada Senin ini, informasinya ada tiga orang Kasatker di BWSS III Riau yang diklarifikasi Jaksa. Salah satunya Yannedi.

Sebelumnya, Yannedi pernah diklarifikasi Jaksa terkait dugaan penyimpangan pembangunan embung di Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Belakangan, penyelidikan perkara itu dihentikan.

Penyelidik saat itu berdalih, pembangunan embung itu telah sesuai ketentuan.Penghentian dilakukan setelah jaksa penyelidik meminta keterangan saksi ahli, yakni ahli bidang struktur, bidang hidroteknik dan geoteknik dari Universitas Riau (UR)  Hasilnya, tidak ditemukan kekurangan dalam pembangunan embung.

Menurut ahli, volume pembangunan embung sesuai ketentuan. “Tidak ada kekurangan volume. Disimpulkan pembangunan embung telah sesuai ketentuan dan spesifikasi,” ucap Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Humas Kejati Riau, Muspidauan pada media Mei 2019 lalu.

Sebelum ditangani Kejati Riau, perkara ini sempat dilidik oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru. Saat itu, sejumlah pihak telah diundang dan Kejari sudah menyita sejumlah dokumen terkait proyek yang dikerjakan pada tahun 2016 dan 2017 itu.

Jaksa bersama konsultan pengawas dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek juga turun langsung ke lapangan untuk mengecek kondisi embung. Meski begitu, saat itu penanganan perkara masih dalam tahap pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket).

Selain dilaporkan ke Kejari, ternyata perkara juga dilaporkan ke Kejati Riau. Selanjutnya, penanganan perkara diambil alih olelh Kejati Riau dan dilakukan penelaahan.

Hasilnya, diketahui jika perkara itu belum pernah dilidik sebelumnya. Dengan begitu, Kejati Riau akhirnya menerbitkan surat perintah penyelidikan (sprind lid) untuk perkara tersebut.

Kendati disebutkan telah sesuai ketentuan, namun fakta di lapangan terlihat sejumlah bagian pada embung mengalami kerusakan, seperti pada bagian tiang (sheet pile). Bendungan juga terlihat retak pada bagian bawahnya.

Selain itu, lantai bagian atas tampak turun. Tanah timbunan lebih rendah, atau turun dari permukaan. Paving blok pada permukaan bendungan, tidak tersusun rapi, dan berantakan. Permukaannya tidak rata. Lebih rendah dibanding dinding bendungan. Pengecoran juga terlihat asal-asalan.

Tak hanya itu, kondisi embung juga belum terlihat kegunaannya. Pasalnya, jalur yang seharusnya dijadikan aliran air, masih tertimbun tanah. Rumput-rumput liar pun bertumbuhan di jalur yang seharusnya dijadikan aliran air.

Penulis: Dodi Ferdian

Comments

Pos terkait