Menangis, Romahurmuziy Baca Puisi

  • Whatsapp

JAKARTA (HR)- Mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Romy mengakhiri nota pembelaannya dengan membacakan dua puisi yang ditujukan untuk istri dan anaknya.

Menurut Romy, selama ia ditahan KPK, istri dan anaknya merupakan sosok yang paling menderita secara batin. Sebab, mereka harus berhadapan dengan cibiran dari lingkungan sekitar yang menjatuhkan mental mereka karena ia terjerat dugaan korupsi.

Dua puisi itu dibacakan Romy selaku terdakwa kasus dugaan suap terkait seleksi jabatan di Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur. “Karenanya izinkan saya menutup pleidoi dengan puisi untuk mereka. Saya memohon yang mulia untuk membebaskan saya dari segala tuduhan, memulihkan seluruh martabat dan kehormatan saya, serta mengembalikan saya kepada anak dan istri saya yang sampai hari ini tetap saya larang untuk hadir di majelis ini,” kata dia di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (13/1).

Puisi pertama yang dibacakan Romy berjudul “Khadijahku”. Puisi itu dibacakan untuk istrinya. Romy terdengar terbata-bata saat membacakan puisi pertama. Berikut adalah puisi pertama yang dibacakan Romy: Khadijahku Engkaulah hidupku Yang menemani pasang dan mendampingi surutku Yang menopang gentar dan menyangga beraniku Di tiap malam Minggu bertahun-tahun lalu. Aku setia mengunjungimu Menandai masa-masa kita menyemai benih rindu Yang seiring waktu kuyakini, cinta itu mendendangkan nada yang semakin merdu Dalam kebahagiaan di luar sana bersama buah hati yang kita sangat mencintainya Khadijahku Sepuluh bulan berlalu Musim beradu Seminggu dua atau tiga kali sahaja Kau setia menjengukku dalam sendu dan haru Menandai cinta kita di babak yang baru.

Tak runtuh sedikitpun pertahananmu Sementara lebih banyak menitik air mataku Karena berpisah denganmu amat lah menyiksaku, Khadijahku Kuharap engkau tetap dalam keteguhanmu bak perahu Nabi Nuh menantang samudera Bersama keceriaan qurrata a’yun yang rela kukorbankan apapun untuk kembali bersamanya Semoga Allah kabulkan tangis dan pintaku yang kini masih dalam gelimang dosa untuk kembali bersamamu seger Yang tak disela lagi atau ditunda karena rinduku tak tertahan padamu dan anak kita Seusai membacakan puisi pertama, Romy melanjutkan ke puisi kedua berjudul “Dzuhurku Diliput Sendu”. Puisi ini secara khusus ditujukan untuk anaknya. Romy tampak menangis dan terbata-bata saat membacakan puisi kedua ini.(kcm)

Comments

Pos terkait