oleh

Dua Hijaber Menyeberang Sungai Pakai Flying Fox

PASIR PANGARAIAN (HR)-Video viral dua perempuan berjilbab yang menyeberang sungai sedang berada di atas sepeda motor pakai flying fox, ternyata ada di Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu.

Belakangan diketahui, salah seorang wanita berhijab yang sedang berada di atas sepeda motor, tengah menyeberang Sungai Batang Kumu bernama Purnama Sari, warga Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu.

Dihubungi, Purnama mengaku, ia dan temannya nekat menyeberang Sungai Batang Kumu pakai flying fox dan masih di atas sepeda motor sepulang kerja dari Desa Batang Kumu. Mereka menyeberang ke areal perkebunan Marihat untuk penelitian di Desa Mondang Kumango, Kecamatan Tambusai.

Ia dan temannya terpaksa menyeberang pakai flying fox dan menantang maut, karena akses alternatif ini lebih dekat sampai ke Marihat Desa Mondang Kumango. Sedangkan untuk balik ke jalan lintas jauh, harus balik dulu ke Kota Bangun Desa Batang Kumu.

Purnama menyebutkan, lokasi flying fox ini lebih dekat masuk dari Simpang Marihat Desa Mondang Kumango atau memerlukan waktu sekira setengah jam perjalanan dengan sepeda motor. Sedangkan dari Desa Batang Kumu memerlukan cukup lama untuk sampai ke Desa Mondang Kumango, sebab harus lewat jalan raya.

“Kita kan lewatnya dari KUD Kota Bangun, daripada kita pulangnya jauh kali kesana makanya kita cari jalan pintasnya dari katrol itu (flying fox),” ungkap Purnama, Selasa (17/9).

Pengendara Pernah Nyebur ke Sungai
Sementara itu, Mamora, Ketua RT 06 Dusun Sei Napal Tepi Batas Marubi Desa Batang Kumu mengatakan flying fox yang berada didusunnya ini menghubungkan Desa Batang Kumu dengan Desa Mondang Kumango.

Diakui Mamora, flying fox ini dibangun dana pribadi Budiman, mantan Kades Mondang Kumango. Alat penyebrangan ini pernah diganti, ketika ada seorang pengendara beserta sepeda motornya nyebur ke aliran Sungai Batang Kumu dengan lebar 40 meter karena sling putus.

Mamora mengatakan, flying fox ini dipakai warga RT 06 Dusun Sei Napal Tepi Batas Marubi Desa Batang Kumu sekira 100 kepala keluarga (KK) menuju Marihat, Desa Mondang Kumango.

“Yang mengelola katrolnya pak Budiman, mantan Kades (Mondang Kumango). Kalau nyebrang disitu lima ribu (berlaku pulang pergi),” jelas Mamora.

Mamora menuturkan juga, flying fox atau katrol ini memang lebih dijangkau dari Simpang Marihat, sedangkan dari KUD Kota Bangun lebih jauh lagi, membutuhkan waktu sekira 1 jam.

Diakuinya, flying fox ini menjadi akses alternatif warga dua desa setiap hari karena jarak tempuh lebih dekat, dibandingkan melewati jalan umum atau jalan propinsi, harus memutar cukup jauh dari Desa Batang Kumu ke Desa Mondang Kumango atau sebaliknya.

Sebelum ada flying fox yang dibuat mantan Kades Mondang Kumango menggunakan dana pribadi, alat penyebrangan disana masih menggunakan sampan. Karena sampan sering hanyut, maka diganti dengan sling dan dikelola pribadi oleh mantan Kades.

Mamora mengaku 15 tahun lalu, mantan Kades Batang Kumu pernah berniat membangun jembatan ini, namun manajemen perusahaan Marihat yang khusus untuk penelitian ini tidak setuju, karena maraknya pencurian TBS kelapa sawit yang harganya mahal, sekira Rp 15 juta per tandannya.

“Kalau masyarakat yang mau nyebrang ya harus menggantung atau yang naik kereta (sepeda motor) ya duduk di atas keretanya sendiri,” pungkas Mamora.(rtc/mel)

Comments

Berita Terbaru