Polda Terus Rampungkan Proses Penyidikan

  • Whatsapp
Petugas memantau aktivitas Kawah Ratu pascaletusan freatik di Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (27/7/2019). Kondisi kawasan wisata Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu pascaletusan freatik pada Jumat (26/7/2019), saat ini tertutup abu vulkanik setebal lima cm sehingga masyarakat umum diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari bibir Kawah Ratu.

PEKANBARU (HR)- Kepolisian Daerah Riau terus merampungkan penyidikan dugaan penipuan dan penggelapan buah sawit di Kecamatan Pujud, Rokan Hilir. Sebagai terlapor dalam perkara tersebut adalah Sari Antoni, anggota DPRD Riau terpilih dari daerah pemilihan (dapil) Rokan Hulu (Rohul).

Ketua DPD II Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Rohul itu dilaporkan ke Polda Riau berdasarkan Laporan Polisi Nomor : STPL/520/X/2016/RIAU/SPKT tertanggal 10 Oktober 2016 atas dugaan penipuan dan penggelapan buah sawit di Kecamatan Pujud, Rohil. Perbuatan Sari Antoni disinyalir telah merugikan masyarakat sebesar Rp289 miliar.

Bacaan Lainnya

Saat dikonfirmasi, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Riau, Kombes Pol Hadi Poerwanto mengatakan, penanganan perkara tersebut masih berjalan. “Masih (berjalan proses penyidikan). Pemeriksaaan saksi-saksi masih dilakukan,” ujar Kombes Pol Hadi Poerwanto, Minggu (28/7).

Dalam penyidikannya, kata Kombes Pol Hadi, pihaknya terus mendalami terkait kawasan atau hutan yang digunakan pihak koperasi maupun perusahaan. Itu dilakukan untkk memastikan kawasan itu merupakan hutan lindung atau lahan milik masyarakat. Hal itu nantinya akan dijadikan alat bukti bagi penyidik untuk menetapkan Sari Antoni sebagai tersangka.
“Terkait lokasi lahan yang diklaim masyarakat, itu masih kita dalami. Beberapa orang dari pihak Kementerian Kehutanan telah dilakukan pemanggil dan pemeriksaan,” sebut dia.

Lebih lanjut ditambahkannya, penyidik juga telah mengirim Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dengan terlapor Sari Antoni. Surat itu diketahui dikirim pada 19 Maret 2019 lalu. “SPDP sudah dikirim ke Kejaksaan. Progres (penanganan perkara) ada, jadi tunggu saja hasilnya,” tutup Kombes Pol Hadi Poerwanto.

Untuk ketahui, kasus dugaan penipuan dan penggelapan buah sawit ini terjadi sejak tahun 2009 lalu. Kasus ini diawali dari kerja sama antara Koperasi Sejahtera Bersama (KSB) dengan Koperasi Karya Perdana (KKP) dalam mengelola buah sawit. Lahan tersebut seluas 7 ribu hektare lebih, dan hanya bisa dikelola 1.000 hektare.

Sari Antoni saat itu adalah mitra KSB dalam pengelolaan kebun sawit milik koperasi seluas 1.102 hektare. Namun, Sari Antoni hanya memberikan beberapa kali hasil kebun itu kepada koperasi, terhitung sejak Juni 2009 hingga 2018. Sehingga koperasi merasa telah mengalami kerugian senilai Rp298 miliar.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Sari Antoni melakukan kerjasama kembali dengan pihak lainnya, yakni PT Torganda. Saat panen, ternyata KKP diduga tidak menyetorkan uang seperti yang diberikan perusahaan sebagai bapak angkat. Sementara penjelasan PT Torganda, uang sudah diberikan seluruhnya. Artinya KKP tidak menyetorkan uang tersebut kepada KSB.

Dalam proses penyelidikan kasus ini, polisi telah memeriksa sejumlah saksi dari pihak pelapor yang jumlah sudah mencapai 16 orang. Penanganan kasus ini sendiri sebelumnya sudah pernah naik ke tahap penyidikan, namun belum ada tersangka. Bahkan dalam perjalannya, Polda Riau sempat menghentikan penyidikan dengan diterbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Tak terima hal itu, masyarakat kemudian mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru. Hasilnya, hakim memutuskan bahwa SP3 dicabut, dan Polda diminta untuk melanjutkan penyidikan tersebut.(dod)

Comments

Pos terkait