Pacu Jalur, Tradisiku Sayang Tradisiku Malang

  • Whatsapp

OLEH: MAYANDRI SUZARMAN, SH

Anak Kuantan Singingi Asli
Hakim pada Pengadilan Negeri Bengkulu

Bacaan Lainnya

Kabupaten Kuantan Singingi merupakan pemekaran dari Kabupaten Indragiri Hulu,yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat. Kabupaten Kuantan Singingi inidilintasi oleh dua sungai besar yakni Sungai Kuantan dan Sungai Singingi. Sungai yang jugamerupakan sumber kehidupan bagi masyarakatnya.

Sebagai daerah yang dilintasi oleh sungai besar, Kabupaten Kuantan Singingi memilikitradisi yang dilaksanakan di sungai yakni Pacu Jalur. Pacu Jalur ini dilaksanakan setiap tahun diTepian Sungai Kuantan. Terdapat beberapa tempat pelaksanaan Pacu Jalur ini dan puncaknyaadalah di tepian Narosa Teluk Kuantan yang dilaksanakan setiap bulan Agustus setiap tahun
sekaligus dalam rangka memperingati HUT RI.

Jalur dahulunya merupakan alat transportasi air yang digunakan oleh masyarakat rantauKuantan dan bahkan juga digunakan oleh kaum bangsawan, para datuk dan penguasa wilayahkala itu. Bahkan jalur dulunya menunjukkan identitas social bagi yang menggunakannya. Jalurini juga digunakan sebagai sarana untuk mengangkut hasil – hasil pertanian.

Tidak tau secara pasti, tetapi dari berbagai literature yang penulis baca, jalur ini mulai dilombakan pada awal tahun 1900-an. Pacu jalur ini awalnya dilaksanakan untuk memperingatihari-hari besar Islam seperti tahun baru islam, Maulid Nabi dan hari raya idul fitri. Perlombaanpacu jalur ini dilaksanakan di tepian sungai Kuantan. Pacu jalur ini sempat terhenti ketika masapenjajahan Jepang dan kemudian dilanjutkan kembali di zaman kemerdekaan.

Hampir seluruh masyarakat Provinsi Riau telah mengenal adanya tradisi Pacu Jalur ini.Hal ini ditandai dengan di setiap pelaksanaannya selalu saja banyak masyarakat Riau yangdatang berbondong – bondong untuk menyaksikannya. Mayoritas diantara mereka penasarandengan bentuk jalur yang diperlombakan tersebut. Tidak saja dari Riau, masyarakat dari daerah tetangga pun banyak yang datang untuk menyaksikannya.

Jalur ini merupakan sebuah perahu, tetapi ukurannya lebih panjang dari perahu biasa.Ukuran panjang jalur ini bisa mencapai 30 meter bahkan lebih dengan diameter 1,2 sampaidengan 1,5 meter. Jalur ini terbuat dari kayu bulat panjang yang biasanya diambil dari kayu yangkeras seperti kulim. Kayu untuk membuat jalur ini biasanya ada di pedalaman rimba belentaraKuantan Singingi. Jaraknya bahkan bias mencapai puluhan kilometer dari perkampungan masyarakat.

Pada umumnya saat ini, hampir seluruh Desa yang ada di Kuantan Singingi mempunyai jalur, baik Desa yang ada di pinggiran sungai Kuantan maupun Desa yang letaknya jauh dari sungai Kuantan. Mempunyai jalur merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Desa di Kuantan Singingi. Apalagi jika jalur mereka berprestasi, sampai-sampai mereka memotong kerbau sebagai wujud rasa syukur atas prestasi yang diraih jalur mereka. Maka tidak heran jika disetiap event pelaksanaanya selalu saja ada pemandangan yang membuat terharu. Kita akan melihat sorak sorai dan genangan air mata para pendukung jalur di tepian sungai.

Oleh karena terbuat dari kayu, tentu jalur ini mempunyai masa ketahanan. Pada umumnya satu buah jalur paling lama berusia lima tahun, kalau lebih dari itu maka jalur akan lapuk dan bisa saja patah pada saat diperlombakan dan tentu saja akan berbahaya bagi anak pacu(orang yang ada dalam jalur). Sehingga mau tidak mau jalur tersebut harus diganti dengan yang baru.

Saat ini, kondisi hutan Kuantan Singingi tidak sama seperti dulu. Kalau dulu sangat mudah untuk mencari kayu sebagai bahan pembuatan jalur. Namun saat ini kondisi hutannya sungguh sangat memprihatinkan. Hutan-hutan di tebang dan berganti dengan kebun sawit, baik yang dimiliki oleh koorporasi maupun perseorangan.

Pembabatan hutan secara massif inilah yang dikuatirkan menghilangkan kayu –kayu besar sebagai bahan pembuatan jalur. Saat ini faktanya masyarakat sudah sangat kesulitan untuk mencari kayu yang ideal untuk dijadikan jalur. Bahkan saking sulitnya mereka harus menempuh puluhan kilometer untuk mendapatkannya. Belum lagi ternyata kayu tersebut berada di kawasan hutan lindung atau masuk HGU atau HPH perusahaan, Alih-alih akan mendapatkan kayu jalur untuk melanjutkan keberlangsungan tradisi, bisa bisa jeratan hukum bakal menimpa.

Kondisi inilah yang perlu menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi. tidak sekali dua kali keluar di pemberitaan tentang sulitnya masyarakat mencari kayuuntuk membuat jalur ini. Terutama jika kayu tersebut di dalam wilayah perusahaan besar.

Bahkan tidak jarang pihak perusahaan tersebut bersikap arogan dengan melarang pengeluaran kayu di pos penjagaan mereka Inilah yang sering di keluhkan oleh masyarakat Kuantan Singingi, jangan sampai nanti karena sulitnya mencari kayu besar tradisi pacu jalur ini hilang seiring waktu. Padahal pacu jalur tersebut adalah budaya yang sudah turun temurun melekat pada masyarakat Kuantan Singingi jauh sebelum Indonesia Merdeka dan telah pula masuk kalender pariwisata nasional yang pembukaan pelaksanaan pernah oleh menteri dan wakil presiden.

Solusi

Untuk menjaga agar tradisi pacu jalur tetap terus hidup dan tidak punah karean keterbatasan kayu, , maka menurut penulis ada dua solusinya:
1. Harus ada sinergisitas kebijakan antara pemerintah daerah, perusahaan dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait perizinan untuk mengambil kayu besar untuk jalur di wilayah Kuantan Singingi. Dengan adanya sinergisitas ini, maka diharapkan tidak ada lagi sikap arogansi perusahaan, kalau perlu diharapkan perusahaan tersebut ikut membantu masyarakat menyediakan kayu untuk pembuatan jalur.

2. Pemerintah menyiapkan hutan adat untuk masyarakat Kuantan singingi yang
pengelolaannya diserahkan pada masyarakat adat.

Hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat yang pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat adat. Hutan adat bertujuan untuk perlindungan masyarakat hukum adat dan kearifan lokal sehingga hutan adat tidak
akan menghilangkan fungsi sebelumnya seperti fungsi lindung ataupun fungsi konservasi. Selain itu kekhususan adat adalah kebersamaan sehingga hutan adat tidak diperjual belikan dan dipindahtangankan.

Dengan adanya hutan adat yang dikelola oleh masyarakat adat, maka keberadaan kayu
kayu besar yang ada dalam kawasan hutan adat akan terjaga, sehingga masyarakat
Kuantan Singingi tidak lagi kesulitan dalam mencari kayu besar untuk membuat jalur.

3. Pemerintah Daerah Kuantan Singingi melarang perusahaan perusahaan pemilik HGU
atau HPH dan juga orang perorangan yang membuka lahan untuk perkebunan untuk
menebang kayu-kayu besar yang dapat dijadikan jalur, dan melaporkan keberadaan kayu
tersebut kepada Pemerintah Daerah, apabila tidak maka Pemerintah Kuantan Singingi
memberikan sanksi berupa tidak memberikan rekomendasi perpanjangan izin.

Apabila Pemerintah Daerah tidak segera mencarikan solusi atas kesulitan masyarakat
Kuantan Singingi dalam mencari kayu jalur ini, maka penulis berkeyakinan suatu saat jalur-jalur
yang ada di Kuantan Singingi akan terbuat dari fiber, atau bahkan mungkin masyarakat Kuantan
Singingi akan memesan jalur dari Nagori Jopang.

Comments

Pos terkait