Berada di Malaysia, UAS Tidak Hadir Sidang

  • Whatsapp
Sidang lanjutan dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik dengan terdakwa Joni Boy alias Jony Boyok di PN Pekanbaru, Kamis (14-02)..jpg

PEKANBARU (HR)-Ustaz Abdul Somad tidak hadir pada sidang lanjutan perkara dugaan penghinaan yang dilakukan terdakwa Joni Boy alias Jony Boyok. UAS dikabarkan tengah berada di Malaysia, sehingga persidangan tersebut terpaksa ditunda.

Demikian terungkap di persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Kamis (14/2). Sejatinya, sidang tersebut beragendakan pemeriksaan empat orang saksi.

Bacaan Lainnya

Selain UAS sebagai saksi korban, tiga saksi lainnya adalah Muhammad Khalid, Delfizar, Nurzen. Tiga nama yang disebut terakhir merupakan saksi fakta yang mengetahui perbuatan terdakwa.

Mengawali persidangan, majelis hakim yang diketuai Astriwati mempertanyakan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengenai siapa saja saksi-saksi akan dimintai keterangan. Menjawab pertanyaan itu, JPU yang dipimpin Syafril Dahlan menyampaikan nama empat saksi yang telah dipanggil, termasuk UAS. “Saksi korban Ustadz Abdul Somad mana?,” tanya Astriwati karena tidak melihat keberadaan UAS. Sementara tiga saksi lainnya hadir.

JPU dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Syafril Dahlan menyampaikan, pihaknya telah menyampaikan surat pemanggilan terhadap UAS, namun yang bersangkutan tidak dapat hadir. “UAS lagi berada di Malaysia. Tidak bisa hadir. Kegiatan beliau (UAS,red) sudah penuh dari 2019 sampai 2020,” jawab Syafril.

Atas jawaban itu, hakim ketua Astriwati tidak bisa menerima. Karena, sebelumnya ia telah meminta menghadirkan UAS sebagai saksi korban untuk diperiksa terlebih dahulu.

Majelis hakim mengatakan, dalam sidang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), korban harus terlebih dahulu dimintai keterangannya. Hal itu tercantum dalam Pasal 160 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). “Kalau ada korban harus terlebih dahulu periksa korban dulu. Setelah itu, baru saksi lain,” kata Astriwati, didampingi hakim anggota Bosman dan Mangapul.

Untuk itu, JPU meminta agar saksi yang telah hadir dimintai terlebih dulu keterangannya. Setelah berembuk hakim tetap menyatakan sidang ditunda pada Kamis mendatang. “Kita tunda seminggu.

Silahkan (JPU) komunikasikan dengan korban untuk kehadirannya. Sampaikan kapan bisa datang, maka kita gelar sidangnya,” tutup Astriawati seraya meminta kepada terdakwa untuk kembali hadir pada sidang pekan depan. “Saya akan hadir pada sidang berikutnya,” singkat terdakwa Joni Boy.

Saat dikonfirmasi, JPU Syafril menyatakan, UAS tidak bisa hadir di persidangan karena sedang menghadiri undangan ceramah di Malaysia. Meski begitu, pihaknya akan berusaha menghadirkan tokoh Riau yang bergelar Datuk Seri Ulama Setia Negara itu, di persidangan berikutnya.

Hal ini, dikarenakan keterangan UAS selaku korban dugaan pencemaran nama baik dan penghinaan sangat dibutuhkan. “Kita akan surati kembali. Kita juga akan komunikasikan dengan beliau, kapan berada di Pekanbaru supaya bisa hadir dipersidangan,” ujar Syafril usai persidangan.

Sebelumnya dalam dakwaan JPU dinyatakan perbuatan terdakwa dilakukannya pada Minggu, 2 September 2018 lalu sekitar pukul 12.00 WIB, di rumahnya di Jalan Kelapa Sawit Gang Dolok I Nomor 8 Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru.

Terdakwa memposting tulisan atau berita di akun media sosial, Facebook, milik terdakwa yang ditujukan kepada Ustaz H Abdul Somad.

Postingan itu berisikan ‘Assalam mualaikum…. oooohhh somad biadab….. keturunan dajjal kjhatnmuu diatas setan…. kl setan masih sayang sm anaknya kl kao Dajjal untuk dikorban kan demi kepentinganpribadi…. neko neko kao qu rebok mumut dajjal muu itu yaaa tomad muda… ttd JB’.

Tulisan itu diunggah terdakwa dengan menggunakan handphone merek Iphone 7 warna hitam dengan kode kunci 190071, email URL https://www.facebook.com/jonny.boyok dan password BONIBOY dan NENEKU SAYANGKU, Tujuan terdakwa memposting tulisan itu agar bisa dilihat oleh orang banyak.

Tulisan itu dilihat saksi Delfizar, Nurzen dan Muhammad Khalid ketika membuka Facebook pada 4 September 2018. Postingan itu juga dilihat UAS pada 5 September 2018, ketika berada di Sulawesi Selatan dalam rangka undangan tablig akbar.

Selain tulisan, Joni Boy juga menyertakan tulisan di foto UAS dengan menggunakan huruf kapital ‘AKHIRNYA KERUKUNAN ANTAR AGAMA berhasil saya HANCURKAN’.

Dalam kalimat yang diposting oleh terdakwa, maksudnya menganggap Ustaz Abdul Somad sebagai orang yang tidak beradab, tidak memiliki adab atau kesopanan artinya menuduh dan menganggap UAS sebagai orang yang tidak memiliki kesopanan dan membawa pengaruh jelek.

Atas tulisan itu, UAS merasa tidak senang, nama baiknya dicemarkan dan membunuh karakter UAS. Akhirnya, Joni Boy dilaporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau.

Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.(dod)

Comments

Pos terkait